❅ https://t.me/MuliaDenganSunnah
_Abu Ubaidah As Sidawi_ حفظه الله
Tolok ukur kemuliaan seorang tidak dipandang dari harta, tahta maupun
nasabnya, melainkan taqwa yg menancap dalam sanubari hamba dan menghiasi
dirinya.
Apalah artinya nasab yg mulia jika kosong dari keimanan. Apalah arti harta dan jabatan jika tanpa ketaqwaan.
Sungguh benar sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam:
مَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
_“Barangsiapa yang amalnya lambat, maka nasabnya tidak bisa mempercepatnya”._
(HR. Muslim)
Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “Maksudnya bahwa amal
perbuatanlah yang mengantarkan seorang hamba ke derajat akhirat,
sebagaimana firman Allah Azza wa jalla:
وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِّمَّا عَمِلُوْا
_"Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat dengan apa yang dikerjakannya."_
(QS. Al-An’am: 132)
Barangsiapa yang amal perbuatannya tidak mengantarkannya ke derajat
yang tinggi di sisi Allah Ta'ala, maka nasabnya tidak bisa
mengantarkannya ke derajat tersebut, sebab Allah memberikan balasan atas
amalan perbuatan *bukan nasab*, sebagaimana firman Allah Tabaaraka wa
ta'ala:
فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلا يَتَسَاءَلُونَ
_"Apabila
sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara
mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya."_
(QS. Al-Mu’minun: 101)
Setelah membawakan dalil-dalil yang menjelaskan bahwa barometer
kebaikan seorang adalah amalnya bukan nasabnya, beliau mengatakan di
akhir bahasan:
“Semua ini dikuatkan oleh hadits yang
diriwayatkan dalam Bukhari 5990 dan Muslim 215 dari Amr bin Ash bahwa
beliau mendengar Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ آلَ أَبِيْ فُلاَنٍ لَيْسُوْا لِيْ بِأَوْلِيَاءَ, إِنَّمَا وَلِيِّيَ اللهُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِيْنَ
_“Sesungguhnya keluarga Abi Fulan bukanlah kekasihku, sesungguhnya kekasihku adalah Allah dan kaum mukminin yang shalih”._
Nabi mengisyaratkan bahwa kecintaannya tidaklah diraih dengan hubungan
nasab sekalipun dekat, tetapi diraih dengan *keimanan dan amal shalih*.
Barangsiapa
yang lebih sempurna keimanan dan amal shalihnya, maka dia lebih beliau
cintai, baik karena hubungan nasab yang dekat maupun tidak ada hubungan
nasab.
Tentang hal ini sebagian orang bijak pernah mengatakan:
لَعَمْرُكَ مَا الإِنْسَانُ إِلاَّ بِدِيْنِهِ
فَلاَ تَتْرُكِ التَّقْوَى اتِّكَالاً عَلَى النَّسَبْ
لَقَدْ رَفَعَ الإِسْلاَمُ سَلْمَانَ فَارِسٍ
وَقَدَ وَضَعَ الشِّرْكُ النَّسِيْبَ أَبَا لَهَبْ
_"Sungguh, tidaklah manusia mulia kecuali dengan agamanya, maka janganlah kamu tinggalkan taqwa karena mengandalkan nasab._
_Sungguh, Islam telah mengangkat Salman dari Persia, sedangkan syirik telah merendahkan Abu Lahab yang memiliki nasab?!"_
(Jami'ul Ulum wal Hikam 2/308-310)
Telegram @yusufassidawi
Channel Media Dakwah Al -Furqan
Editor : Admin Asy-Syamil.com
Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini , semoga bermanfaat.
Jazakumullahu khoiron.
Home »
» TIADA BERNILAI NASAB TANPA BALUTAN IMAN








Tidak ada komentar:
Posting Komentar