Agar penuntut ilmu berhasil dalam belajarnya di bawah manhaj Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, maka hendaknya mereka
memperhatikan dan mempraktekkan 6 perkara di bawah ini :
➡(1).
Dengan bertakwa kepada Allah, yang nantinya ia akan diberikan furqan
(adanya kemampuan untuk membedakan antara yang haq dan bathil)
Allah 'Azza wa Jalla berfirman :
"Wahai
orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan
memberikan kepadamu "FURQAN", dan akan menghapus segala kesalahanmu, dan
mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah memiliki karunia yang besar" (QS.
Al-Anfal [8]: 29)
Bertakwa merupakan perkara yang bisa menopang
keberhasilan menuntut ilmu. Dahulu Imam asy-Syafi’i mengeluhkan jeleknya
hafalannya kepada gurunya yang bernama Imam Waqi’ :
شَكَوْت إلَى
وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي
وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى
لِعَاصِي
"Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya
hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau
memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah
mungkin diberikan kepada ahli maksiat" (I’anatuth Tholibin II/190).
➡(2).
Dengan banyak belajar menimba ilmu kepada para ulama atau ustadz yang
memiliki manhaj dan aqidah yang benar, yaitu mereka yang mengajak umat
untuk kembali kepada cara beragama yang benar, yang telah dicontohkan
dan diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para
sahabat, serta orang-orang setelahnya yang mengikuti manhaj mereka dalam
kebaikan.
➡(3). Dengan banyak berdoa kepada Allah Ta'ala agar
terus diberikan hidayah dan taufik, sehingga terhindar dari kesesatan
dan kesalahan.
اللَّهُمَّ انْفَعْنا بِمَا عَلَّمْتَنا وَعَلِّمْنا مَا يَنْفَعُنا وَزِدْنا عِلْمًا
"Ya
Allah, berikanlah manfaat pada ilmu yang telah Engkau ajarkan kepada
kami dan ajarkanlah hal-hal yang bermanfaat untuk kami dan tambahkanlah
kami ilmu"
➡(4). Dengan melihat kepada dalil atau keterangan yang
ada dalam al-Qur'an, as-Sunnah dan perkataan para sahabat yang dianggap
sebagai dalil pokok dalam pengambilan hukum. Siapapun yang berbicara
tentang agama tanpa dalil, maka dipastikan bahwa ia akan salah dalam
memahami agama.
➡(5). Memahami dalil sesuai dengan yang
diinginkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam
serta apa yang dipahami oleh para sahabat. Bukan sesuai dengan akal,
perasaan, hawa nafsu dan budaya serta ridho dan syahwat manusia. Jika
dalil dipahami dengan cara itu semua maka pasti akan bermasalah, karena
setiap manusia pasti berbeda keinginan dan pemahamannya.
Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah berkata :
من الناس من يستفتي أهل العلم، فإن كانت الفتوى توافق هواه قبلها، وإلا أعرض عنها، وهذه صفة من صفات اليهود
"Sebagian
orang ada yang meminta fatwa kepada para ulama, maka jika fatwa
tersebut sesuai dengan hawa nafsunya dia pun menerimanya dan jika tidak
maka dia berpaling darinya. Dan yang semacam ini termasuk sifat Yahudi"
(Riyaadhul Jannah hal 17)
➡(6). Dengan kesungguh-sungguhan
mengamalkan ke 5 point di atas, maka insya Allah seorang penuntut ilmu
akan mudah memahami Islam dan as-Sunnah, serta mampu membedakan antara
yang haq dan bathil.
Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata :
لا ينال العلم براحة الجسد
"Ilmu tidak akan di dapat dengan cara bersantai-santai" (Tadrib ar-Rawi II/141).
Imam asy-Syafi'i rahimahullah berkata :
من لا يحب العلم لا خير فيه
"Barangsiapa yang tidak mencintai ilmu, maka tidak ada kebaikan padanya" (Tarikh Dimasyqa XV/407).
Abdul Wahid bin Zaid rahimahullah berkata :
مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ فَتَحَ اللهُ لَهُ مَا لاَ يَعْلَمُ
"Barangsiapa
mengamalkan ilmu yang telah ia pelajari, maka Allah akan membukakan
untuknya perkara yang sebelumnya ia tidak tahu" (Hilyatul Auliyaa’
VI/163).
Ustadz Najmi Umar Bakkar
Editor : Admin Asy-Syamil.com
Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini , semoga bermanfaat.
Jazakumullahu khoiron.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar