❅ https://t.me/MuliaDenganSunnah
_Abu Ubaidah As Sidawi_ حفظه الله
Tolok ukur kemuliaan seorang tidak dipandang dari harta, tahta maupun
nasabnya, melainkan taqwa yg menancap dalam sanubari hamba dan menghiasi
dirinya.
Apalah artinya nasab yg mulia jika kosong dari keimanan. Apalah arti harta dan jabatan jika tanpa ketaqwaan.
Sungguh benar sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam:
مَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
_“Barangsiapa yang amalnya lambat, maka nasabnya tidak bisa mempercepatnya”._
(HR. Muslim)
Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “Maksudnya bahwa amal
perbuatanlah yang mengantarkan seorang hamba ke derajat akhirat,
sebagaimana firman Allah Azza wa jalla:
وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِّمَّا عَمِلُوْا
_"Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat dengan apa yang dikerjakannya."_
(QS. Al-An’am: 132)
Barangsiapa yang amal perbuatannya tidak mengantarkannya ke derajat
yang tinggi di sisi Allah Ta'ala, maka nasabnya tidak bisa
mengantarkannya ke derajat tersebut, sebab Allah memberikan balasan atas
amalan perbuatan *bukan nasab*, sebagaimana firman Allah Tabaaraka wa
ta'ala:
فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلا يَتَسَاءَلُونَ
_"Apabila
sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara
mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya."_
(QS. Al-Mu’minun: 101)
Setelah membawakan dalil-dalil yang menjelaskan bahwa barometer
kebaikan seorang adalah amalnya bukan nasabnya, beliau mengatakan di
akhir bahasan:
“Semua ini dikuatkan oleh hadits yang
diriwayatkan dalam Bukhari 5990 dan Muslim 215 dari Amr bin Ash bahwa
beliau mendengar Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ آلَ أَبِيْ فُلاَنٍ لَيْسُوْا لِيْ بِأَوْلِيَاءَ, إِنَّمَا وَلِيِّيَ اللهُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِيْنَ
_“Sesungguhnya keluarga Abi Fulan bukanlah kekasihku, sesungguhnya kekasihku adalah Allah dan kaum mukminin yang shalih”._
Nabi mengisyaratkan bahwa kecintaannya tidaklah diraih dengan hubungan
nasab sekalipun dekat, tetapi diraih dengan *keimanan dan amal shalih*.
Barangsiapa
yang lebih sempurna keimanan dan amal shalihnya, maka dia lebih beliau
cintai, baik karena hubungan nasab yang dekat maupun tidak ada hubungan
nasab.
Tentang hal ini sebagian orang bijak pernah mengatakan:
لَعَمْرُكَ مَا الإِنْسَانُ إِلاَّ بِدِيْنِهِ
فَلاَ تَتْرُكِ التَّقْوَى اتِّكَالاً عَلَى النَّسَبْ
لَقَدْ رَفَعَ الإِسْلاَمُ سَلْمَانَ فَارِسٍ
وَقَدَ وَضَعَ الشِّرْكُ النَّسِيْبَ أَبَا لَهَبْ
_"Sungguh, tidaklah manusia mulia kecuali dengan agamanya, maka janganlah kamu tinggalkan taqwa karena mengandalkan nasab._
_Sungguh, Islam telah mengangkat Salman dari Persia, sedangkan syirik telah merendahkan Abu Lahab yang memiliki nasab?!"_
(Jami'ul Ulum wal Hikam 2/308-310)
Telegram @yusufassidawi
Channel Media Dakwah Al -Furqan
Editor : Admin Asy-Syamil.com
Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini , semoga bermanfaat.
Jazakumullahu khoiron.
TIADA BERNILAI NASAB TANPA BALUTAN IMAN
SUJUD YANG DAPAT MEMBATALKAN SHOLAT
أُمِرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْضَاءٍ
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan untuk melakukan sujud dengan bertumpu pada 7 anggota badan.
Dalam riwayat lain, juga dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الجَبْهَةِ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَاليَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ، وَأَطْرَافِ القَدَمَيْنِ
“Aku diperintahkan untuk bersujud dengan bertumpu pada tujuh anggota badan: dahi –dan beliau berisyarat dengan menyentuhkan tangan ke hidung beliau–, dua telapak tangan, dua lutut, dan ujung-ujung dua kaki…” [HR. Bukhari 779 dan Muslim 1126]
》Berdasarkan hadits tsb, maka tujuh anggota sujud dapat kita rinci:
●. Dahi dan mencakup hidung.
Praktek beliau ketika sujud, hidung dipastikan menempel di lantai. Sahabat Abu Humaid Radhiyallahu ‘anhu menceritakan cara shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ثُمَّ سَجَدَ فَأَمْكَنَ أَنْفَهُ وَجَبْهَتَهُ
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menempelkan dahi dan hidungnya ke lantai…"
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menekankan agar dahi dan hidung benar-benar menempel di lantai.
لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةً لَا يُصِيبُ الْأَنْفُ مِنْهَا مَا يُصِيبُ الْجَبِينَ
“Allah tidak menerima shalat bagi orang yang tidak menempelkan hidungnya ke tanah, sebagaimana dia menempelkan dahinya ke tanah.”
Hadis ini menunjukkan, menempelkan hidung ketika sujud hukumnya wajib.
[●]Bagaimana Jika Ada salah Satu Anggota Sujud tidak Menyentuh Lantai?
Sebagian ulama menilai, sujud semacam ini batal, sehingga shalatnya tidak sah.
An-Nawawi mengatakan,
وأما اليدان والركبتان والقدمان فهل يجب السجود عليهما فيه قولان للشافعي رحمه الله تعالى أحدهما لا يجب لكن يستحب استحبابا متأكدا والثاني يجب وهو الأصح وهو الذي رجحه الشافعي رحمه الله تعالى فلو أخل بعضو منها لم تصح صلاته
Untuk anggota sujud dua tangan, dua lutut, dan dua ujung kaki, apakah wajib sujud dengan menempelkan kedua anggota badan yang berpasangan itu?
●PERTAMA, tidak wajib. Namun sunah muakkad (yang ditekankan).
Keterangan yang sama juga disampaikan Dr. Sholeh al-Fauzan.
من سجد ولم يسجد على بعض الأعضاء فهذا فيه تفصيل، فإن كان عدم سجوده على بعض الأعضاء لعذر منعه من ذلك كأن كان لا يستطيع السجود عليه فهذا لا حرج عليه، يسجد على بقية الأعضاء، أما العضو الذي لا يستطيع السجود عليه فإنه معذور فيه، وأما إذا كان لم يسجد على بعض الأعضاء لغير عذر شرعي فإن صلاته لا تصح، لأنه نقص ركناً من أركانها وهو السجود على سبعة أعضاء.
Orang yang sujud, namun salah satu anggota sujudnya tidak menempel tanah, maka di sana ada rincian,
Jika dia tidak menempelkan sebagian anggota sujud karena udzur yang menghalanginya untuk melakukan hal itu, seperti orang yang tidak bisa sujud dengan meletakkan salah satu anggota sujudnya, maka tidak ada masalah baginya untuk melakukan sujud dengan bertumpu pada anggota sujud yang bisa dia letakkan di tanah. Sementara anggota sujud yang tidak mampu dia letakkan, menjadi udzur baginya.
Namun jika dia tidak meletakkan sebagian anggota sujud tanpa ada udzur yang diizinkan syariat, maka shalatnya tidak sah. Karena dia mengurangi salah satu rukun shalat, yaitu sujud di atas 7 anggota sujud.
Demikian, semoga Allah memudahkan kita untuk beribadah dengan sempurna.
SANG PEMBEDA
"Katakanlah : 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." (QS. Ali 'Imraan [3] : 31).
Al-Hafizh Ibnu Katsir رحمه الله تعالىٰ ketika menafsirkan ayat di atas berkata:
Allah عز وجل berfirman :
Al-Hafizh Ibnu Katsir رحمه الله تعالىٰ berkata,
Semoga Allah تبارك وتعالىٰ senantiasa mencurahkan shalawat dan salam kepada beliau hingga hari Kiamat." (Tafsiir Ibni Katsir, VI/391).
Rasulullah ﷺ juga pernah bersabda,
Semoga Alah تبارك وتعالىٰ memberikan hidayah dan taufiq serta dimudahkan menempuh jalan yang ditempuh Rosulullah baik perkataan ataupun perbuatan dalam kehidupan sehari hari.
Wallahu a'lam
PERHATIKAN DENGAN SIAPA ENGKAU BERTEMAN
~~~~~~~

Dari Abu Musa Al-Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ bersabda: مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة
_“Permisalan teman duduk yang shalih dan buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, bisa jadi ia akan memberimu minyak wangi, atau kamu akan membeli darinya atau kamu akan mendapat bau harum darinya. Adapun tukang pandai besi, bisa jadi ia akan membuat pakaianmu terbakar, atau kamu akan mendapat bau yang tidak sedap darinya.”_ (HR. Bukhari No. 2101, Muslim No. 2628).
Wahai saudariku, demikianlah Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam_
memberikan petunjuk kepada kita agar senantiasa memilih teman-teman
yang shalih dan waspada dari teman-teman yang buruk.
Manfaat Berteman dengan Orang yang Shalih Teman yang shalih senantiasa mendorong kita untuk melakukan ketaatan kepada Allah, berbakti kepada orang tua, menyambung tali silaturrahim, dan mengajak kita untuk senantiasa berakhlak mulia, baik dengan perkataannya, perbuatannya, ataupun dengan sikapnya. Sesungguhnya seseorang akan mengikuti sahabat atau teman duduknya, dalam hal tabiat dan perilaku. Keduanya saling terikat satu sama lain dalam kebaikan ataupun yang sebaliknya. (Bahjah Quluubil Abrar, 119)
Jika kita tidak mendapat manfaat di atas, minimal masih ada manfaat
yang bisa kita peroleh ketika berteman dengan orang yang shalih, yaitu _kita akan tercegah dari perbuatan-perbuatan jelek dan maksiat. Teman
yang shalih akan selalu menjaga persahabatan, senantiasa mengajak
berlomba-lomba dalam kebaikan, berusaha menghilangkan keburukan.
seseorang, akan dinilai sesuai dengan siapakah yang menjadi teman dekatnya,
sebagaimana sabda Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam_:
المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
_“Seseorang itu menurut agama teman dekatnya, maka hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.”_ (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927).
Bahaya Teman yang BurukOrang yang bersifat jelek dapat mendatangkan bahaya bagi orang yang berteman dengannya, dapat mendatangkan keburukan bagi orang yang bergaul bersamanya.
Sungguh betapa banyak kaum yang hancur karena sebab keburukan-keburukan mereka, dan betapa banyak orang yang mengikuti sahabat-sahabat mereka menuju kehancuran, baik sadar ataupun tidak sadar. (Bahjatu Qulubil Abrar, 120).
_Oleh karena itulah, sungguh di antara nikmat Allah yang paling besar
bagi seorang hamba yang beriman adalah Allah memberinya taufiq
berupa teman yang_ baik. Sebaliknya, di antara ujianbagi
seorang hamba adalah Allah mengujinya dengan teman yang buruk.(Bahjah Qulubil Abrar, 120).
Jangan Sampai MenyesalAllah Ta’ala berfirman
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا ( ) يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ( ) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا
(Sumber:muslimah.or.id)
Oleh: Mutiara Risalah Islam
Pembina Ust Dr. Musyaffa' ad Dariny Lc, M.A.
>>>>>>>

<<<<<<<Di broadcast ulang : BerbagiKebaikan
WANITA, UJIAN TERBESAR BAGI LAKI-LAKI
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآب
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali ‘Imran: 14)
Ayat di atas menjelaskan bahwa mencintai wanita dan dunia adalah fitrah manusia. Seorang laki-laki tidak dilarang mencintai wanita selama aplikasi cintanya tidak melanggar syariat. Seorang manusia tidak dilarang mencintai dunia selama kecintaannya tidak mennjerumuskan kepada maksiat. Namun sadarkah, sejatinya di balik keindahan itu semua adalah fitnah (ujian) untuk manusia?
Para ulama menjelaskan, tatkala Allah menjadikan dunia terlihat indah di mata manusia, ditambah dengan berbagai aksesorisnya yang memikat, mulailah jiwa dan hati condong kepadanya. Dari sini manusia terbagi menjadi dua kubu sesuai dengan pilihannya. Sebagian orang menjadikan seluruh anugerah tesebut sebagai tujuan hidupnya. Seluruh pikiran dan tenaga dikerahkan demi meraihnya, hal itu sampai memalingkan mereka dari ibadah. Akhirnya mereka tidak peduli bagaimana cara mendapatkannya dan untuk apa kegunaannya. Ini adalah golongan orang-orang yang kelak menerima azab yang pedih. Sedangkan golongan yang kedua adalah orang-orang yang sadar bahwa tujuan penciptaan dunia ini adalah untuk menguji manusia, sehingga mereka menjadikannya sarana untuk mencari bekal akhirat. Inilah golongan yang selamat dari fitnah, merekalah yang mendapat rahmat Allah[1].
Wanita, Ujian Terbesar Kaum Laki-laki
Ungkapan Imam Ibnu Hajar ini selaras dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan dari Usamah Bin Zaid. Beliau bersabda,
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari: 5096 dan Muslim: 2740)
Hadis ini tidak berlebihan. Karena fakta memang telah membuktikan. Meskipun wanita diciptakan dengan kondisi akal yang lemah, namun betapa banyak lelaki yang cerdas, kuat gagah perkasa, dibuat lemah tunduk di bawahnya. Meskipun para wanita diciptakan dengan keterbatasannya, namun betapa banyak para penguasa jatuh tersungkur dalam jeratnya. Meskipun wanita dicipta dengan keterbatasan agama, namun betapa banyak ahli ibadah yang dibuat lalai dari Tuhannya.
Sumber : muslim.or.id
Di broadcast ulang : BerbagiKebaikan
KIAT BELAJAR ISLAM YANG BENAR
Agar penuntut ilmu berhasil dalam belajarnya di bawah manhaj Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, maka hendaknya mereka
memperhatikan dan mempraktekkan 6 perkara di bawah ini :
➡(1).
Dengan bertakwa kepada Allah, yang nantinya ia akan diberikan furqan
(adanya kemampuan untuk membedakan antara yang haq dan bathil)
Allah 'Azza wa Jalla berfirman :
"Wahai
orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan
memberikan kepadamu "FURQAN", dan akan menghapus segala kesalahanmu, dan
mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah memiliki karunia yang besar" (QS.
Al-Anfal [8]: 29)
Bertakwa merupakan perkara yang bisa menopang
keberhasilan menuntut ilmu. Dahulu Imam asy-Syafi’i mengeluhkan jeleknya
hafalannya kepada gurunya yang bernama Imam Waqi’ :
شَكَوْت إلَى
وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي
وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى
لِعَاصِي
"Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya
hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau
memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah
mungkin diberikan kepada ahli maksiat" (I’anatuth Tholibin II/190).
➡(2).
Dengan banyak belajar menimba ilmu kepada para ulama atau ustadz yang
memiliki manhaj dan aqidah yang benar, yaitu mereka yang mengajak umat
untuk kembali kepada cara beragama yang benar, yang telah dicontohkan
dan diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para
sahabat, serta orang-orang setelahnya yang mengikuti manhaj mereka dalam
kebaikan.
➡(3). Dengan banyak berdoa kepada Allah Ta'ala agar
terus diberikan hidayah dan taufik, sehingga terhindar dari kesesatan
dan kesalahan.
اللَّهُمَّ انْفَعْنا بِمَا عَلَّمْتَنا وَعَلِّمْنا مَا يَنْفَعُنا وَزِدْنا عِلْمًا
"Ya
Allah, berikanlah manfaat pada ilmu yang telah Engkau ajarkan kepada
kami dan ajarkanlah hal-hal yang bermanfaat untuk kami dan tambahkanlah
kami ilmu"
➡(4). Dengan melihat kepada dalil atau keterangan yang
ada dalam al-Qur'an, as-Sunnah dan perkataan para sahabat yang dianggap
sebagai dalil pokok dalam pengambilan hukum. Siapapun yang berbicara
tentang agama tanpa dalil, maka dipastikan bahwa ia akan salah dalam
memahami agama.
➡(5). Memahami dalil sesuai dengan yang
diinginkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam
serta apa yang dipahami oleh para sahabat. Bukan sesuai dengan akal,
perasaan, hawa nafsu dan budaya serta ridho dan syahwat manusia. Jika
dalil dipahami dengan cara itu semua maka pasti akan bermasalah, karena
setiap manusia pasti berbeda keinginan dan pemahamannya.
Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah berkata :
من الناس من يستفتي أهل العلم، فإن كانت الفتوى توافق هواه قبلها، وإلا أعرض عنها، وهذه صفة من صفات اليهود
"Sebagian
orang ada yang meminta fatwa kepada para ulama, maka jika fatwa
tersebut sesuai dengan hawa nafsunya dia pun menerimanya dan jika tidak
maka dia berpaling darinya. Dan yang semacam ini termasuk sifat Yahudi"
(Riyaadhul Jannah hal 17)
➡(6). Dengan kesungguh-sungguhan
mengamalkan ke 5 point di atas, maka insya Allah seorang penuntut ilmu
akan mudah memahami Islam dan as-Sunnah, serta mampu membedakan antara
yang haq dan bathil.
Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata :
لا ينال العلم براحة الجسد
"Ilmu tidak akan di dapat dengan cara bersantai-santai" (Tadrib ar-Rawi II/141).
Imam asy-Syafi'i rahimahullah berkata :
من لا يحب العلم لا خير فيه
"Barangsiapa yang tidak mencintai ilmu, maka tidak ada kebaikan padanya" (Tarikh Dimasyqa XV/407).
Abdul Wahid bin Zaid rahimahullah berkata :
مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ فَتَحَ اللهُ لَهُ مَا لاَ يَعْلَمُ
"Barangsiapa
mengamalkan ilmu yang telah ia pelajari, maka Allah akan membukakan
untuknya perkara yang sebelumnya ia tidak tahu" (Hilyatul Auliyaa’
VI/163).
Ustadz Najmi Umar Bakkar
Editor : Admin Asy-Syamil.com
Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini , semoga bermanfaat.
Jazakumullahu khoiron.
TATACARA SHOLAT SESUAI SUNNAH
SHOLAT sesuai SUNNAH NABI shallallahu’alaihi wasallam secara ringkas
dan padat. Semoga dapat menjadi rujukan dan panduan dalam menunaikan
ibadah yang agung ini, yaitu ibadah shalat.
Cara melakukan shalat adalah sebagai berikut:
1. Berniat untuk shalat (rukun shalat)
Niat
adalah maksud hati untuk melakukan sesuatu. Shalat tidaklah sah tanpa
niat, dan shalat tidaklah diterima jika niat shalat bukan karena Allah.
Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Setiap amal tergantung pada
niatnya” (HR. Bukhari-Muslim). Para ulama sepakat niat adalah amalan
hati, sehingga niat tidak perlu diucapkan. Ketika hati sudah beritikad
untuk melakukan shalat, itu sudah niat yang sah. Nabi shallallahu’alaihi
wasallam juga tidak pernah mengajarkan lafal tertentu untuk niat
shalat.
2. Berdiri tegak menghadap kiblat (rukun shalat)
Berdiri
ketika shalat wajib, termasuk rukun shalat. Diantara dalilnya adalah
sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam : “Shalatlah dengan berdiri, jika
tidak mampu maka duduk, jika tidak mampu maka sambil berbaring” (HR.
Bukhari). Hadits ini juga menunjukkan boleh shalat dalam keadaan duduk
jika tidak mampu berdiri, atau berbaring jika tidak mampu duduk. Wajib
menghadap ke arah kiblat ketika berdiri, kecuali shalat di atas
kendaraan. Bagi penduduk Makkah, wajib menghadap ke arah ka’bah. Adapun
bagi penduduk luar Makkah, cukup mengarah ke arah kota Makkah tidak
harus pas ke ka’bah. Pandangan mata ketika berdiri, lebih utama
memandang ke arah tempat sujud. Boleh memandang ke depan atau ke bawah,
dan terlarang keras memandang ke atas atau ke samping tanpa ada
kebutuhan.
3. Melakukan takbiratul ihram (rukun shalat)
Caranya
dengan mengangkat kedua tangan sambil mengucapkan “Allahu akbar” dengan
suara yang minimal dapat didengar diri sendiri. Tidak sah shalat tanpa
Takbiratul ihram. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Jika
engkau hendak shalat, ambilah wudhu lalu menghadap kiblat dan
bertakbirlah” (HR. Bukhari-Muslim). Tangan diangkat sampai setinggi
pundak (sebagaimana hadits riwayat Ahmad (shahih)) atau pangkal telinga
(sebagaimana hadits riwayat Muslim.
4. Bersedekap
Setelah
takbiratul ihram, tangan bersedekap. Hukumnya sunnah. Caranya yaitu
dengan meletakkan tangan kanan berada di atas tangan kiri. Sahl bin
Sa’ad berkata: “Dahulu orang-orang diperintahkan untuk meletakkan tangan
kanan di atas lengan kirinya ketika shalat” (HR. Al Bukhari). Ada dua
bentuk bersedekap yang boleh dipilih :
1. al wadh’u (meletakkan
kanan di atas kiri tanpa melingkari atau menggenggam). Letak tangan
kanan ada di tiga tempat: di punggung tangan kiri, di pergelangan tangan
kiri dan di lengan bawah dari tangan kiri. Dalilnya, hadits dari Wa’il
bin Hujr tentang sifat shalat Nabi, “..setelah itu beliau meletakkan
tangan kanannya di atas punggung tangan kiri, atau di atas pergelangan
tangan atau di atas lengan” (HR. Abu Daud, shahih).
2. al qabdhu
(jari-jari tangan kanan melingkari atau menggenggam tangan kiri).
Dalilnya, hadits dari Wa’il bin Hujr: “Aku Melihat Nabi
shallallahu’alaihi wasallam berdiri dalam shalat beliau melingkari
tangan kirinya dengan tangan kanannya” (HR. An Nasa-i, shahih). Adapun
mengenai letak sedekap, tidak terdapat hadits yang shahih dari Nabi
shallallahu’alaihi wasallam mengenai hal ini. Sehingga perkaranya
longgar, boleh di dada, boleh di perut atau juga di bawah perut, semua
ini ada contohnya dari salafus shalih.
5. Membaca doa istiftah
Hukum
membacanya adalah sunnah. Ada beberapa macam jenis doa istiftah yang
dibaca oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan sahabatnya,
berdasarkan riwayat-riwayat yang shahih. Diantaranya adalah doa:
“Allahumma baa’id bayni wa bayna khothooyaaya, kamaa ba’adta bayna
masyriqi wal maghrib. Allahumma naqqinii khothooyaaya kamaa yunaqqots
tsaubul abyadhu minad danas, Allahummaghsil khothooyaaya bil maa-i wats
tsalji wal barod” (HR.Bukhari-Muslim).
6. Membaca ta’awudz lalu basmalah
Setelah
membaca istiftah, lalu membaca ta’awudz. Hukumnya sunnah. Ada beberapa
bacaan ta’awudz yang shahih, diantaranya: “a’uudzubillaahi minas
syaithaanir rajiim” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf) atau
“a’uudzubillaahis samii’il ‘aliimi minas syaithaanir rajiim” (HR.
Abdurrazaq dalam Al Mushannaf). Ta’awudz dibaca secara sirr (lirih).
Para ulama berbeda pendapat apakah basmalah dibaca secara jahr (keras)
atau sirr (lirih). Yang rajih, lebih afdhal membacanya secara sirr
(lirih), namun boleh sesekali membaca secara jahr karena riwayat dari
Abu Hurairah yang menyatakan bahwa beliau mengeraskan basmalah.
7. Membaca Al Fatihah (rukun shalat)
Setelah
membaca ta’awudz, lalu membaca surat Al Fatihah. Tidak sah shalat tanpa
membaca Al Fatihah. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “tidak
ada shalat bagi orang yang tidak membaca Faatihatul Kitaab” (HR.
Bukhari-Muslim). Namun berbeda lagi bagi makmum, para ulama berbeda
pendapat apakah makmum ikut membaca Al Fatihah ataukah diam mendengarkan
bacaan imam. Yang rajih, jika makmum mendengar imam sedang membaca
(secara jahr), maka ia wajib mendengarkan dan diam. Makmum tidak membaca
Al Fatihah ataupun bacaan lain. Jika makmum tidak mendengarkan imam
membaca (karena dibaca secara sirr), maka ia wajib membaca Al Fatihah.
Inilah pendapat jumhur ulama. Setelah membaca Al Fatihah, disunnahkan
mengucapkan “aamiin” dengan jahr (keras). “aamiin” artinya “ya Allah
kabulkanlah”.
8. Membaca surat dari Al Qur’an
Kemudian
disunnahkan membaca surat dari Al Qur’an (selain Al Fatihah) yang
dihafal, dengan jahr (keras) di shalat jahriyyah (maghrib, isya’, dan
subuh).
9. Rukuk
Dengan mengucapkan “Allahu Akbar” sambil
mengangkat kedua tangan, sama seperti cara takbiratul ihram, kemudian
membungkukkan badan sehingga punggung dan kepala dalam keadaan lurus,
telapak tangan menggenggam lutut dengan jari-jari direnggangkan. Dari
Abu Humaid As Sa’idi mengatakan: “Nabi shallallahu’alaihi wasallam jika
rukuk, beliau meletakkan kedua tangannya pada lututnya, dan meluruskan
punggungnya” (HR. Al Bukhari). Ketika rukuk membaca doa: “subhaana
rabbiyal ‘azhiim” (HR. Al Bukhari) sebanyak 3x atau lebih.
10. I’tidal (bangun dari rukuk)
Bangun
dari rukuk hingga berdiri tegak sambil mengucapkan: “sami’allahu liman
hamidah”, bagi imam atau orang yang shalat sendiri. Bagi makmum membaca:
“rabbanaa walakal hamdu”. Sambil mengangkat kedua tangan seperti cara
mengangkat tangan ketika takbir.
11. Melakukan sujud pertama
Dari
kondisi berdiri setelah i’tidal, turun untuk bersujud sambil
mengucapkan “Allahu Akbar”. Para ulama berbeda pendapat apakah lebih
dahulu tangan ataukah lutut ketika turun. Yang rajih, wallahu a’lam,
sebagaimana riwayat dari Ibnu Umar: “bahwasanya ia turun sujud dengan
kedua tangannya sebelum lututnya” (HR. Al Bukhari secara mu’allaq, Abu
Daud). Cara sujud adalah dengan menempelkan 7 anggota badan. Sebagaimana
sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam : “aku diperintahkan untuk sujud
dengan 7 anggota badan: jidat (sambil menunjukkan kepada hidungnya), 2
tangan, 2 lutut, dan jari-jari kedua kaki” (HR. Bukhari-Muslim). Hadits
ini menunjukkan bahwa hidung juga termasuk yang wajib ditempelkan.
Kemudian kedua tangan sejajar dengan pundaknya atau pangkal telinganya,
dengan jari-jari dalam keadaan rapat dan menghadap kiblat. Lengan dibuka
dan tidak menempel dengan badan. “Nabi shallallahu’alaihi wasallam
jika shalat (sujud) beliau merenggangkan kedua tangannya hingga terlihat
putihnya ketiak beliau” (HR. Bukhari-Muslim). Namun ini dilakukan
semampunya tanpa mengganggu orang yang shalat di sebelahnya. Ketika
sujud membaca doa: “subhaana rabbiyal a’laa” sebanyak 3 kali atau lebih.
Dianjurkan memperbanyak doa ketika sujud, karena seorang hamba paling
dekat dengan Rabb-nya adalah ketika sujud.
12. Duduk di antara 2 sujud
Bangun
dari sujud sambil mengucapkan “Allahu akbar” tanpa mengangkat tangan,
kemudian duduk iftirasy. Duduk iftirasy adalah duduk dengan cara
menegakkan telapak kaki kanan dan posisi jari-jarinya menghadap kiblat.
Sedangkan kaki kiri dalam keadaan tidur dan diduduki oleh pantat. Kedua
tangan diletakkan di atas paha, jari-jari menghadap ke kiblat. Ketika
duduk, mengucapkan doa: “rabbighfirlii” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, An
Nasa-i. shahih).
13. Melakukan sujud kedua
Dari posisi
duduk, turun untuk sujud sambil mengucapkan “Allahu Akbar”, kemudian
sujud dengan tata cara sujud yang sama seperti sujud pertama.
14. Melakukan duduk istirahat dan bangun menuju rakaat kedua
Dari
posisi sujud, bangkit tanpa bertakbir, untuk duduk sejenak dengan
posisi duduk iftirasy. Lalu bangun untuk berdiri menuju rakaat yang
kedua sambil mengucapkan “Allahu Akbar” dan mengangkat kedua tangan
seperti cara mengangkat tangan pada takbiratul ihram. Takbir ini
dinamakan takbir intiqal. Intiqal artinya berpindah, karena takbir ini
dilakukan ketika berpindah dari satu rukun menuju rukun berikutnya.
15. Melakukan tata cara yang sama seperti rakaat pertama
Setelah
melakukan takbir intiqal, berdiri secara sempurna dan bersedekap
sebagaimana pada rakaat pertama. Kemudian seterusnya melakukan hal yang
sama seperti pada rakaat pertama. Perbedaan hanya terletak pada beberapa
hal:
Pada rakaat kedua dan seterusnya, tidak disyariatkan
membaca doa istiftah. Sebagaimana namanya, istiftah artinya ‘membuka’,
hanya disyariatkan pada rakaat pertama. Maka, setelah takbir intiqal,
langsung membaca basmalah dan seterusnya.
Pada shalat yang jumlah
rakaatnya lebih dari dua, maka rakaat ketiga atau rakaat keempat, bacaan
Al Fatihah dan bacaan surat tidak dikeraskan
Pada rakaat kedua, pada
shalat yang rakaatnya lebih dari dua, setelah bangun dari sujud yang
kedua, tidak melakukan duduk istirahat melainkan duduk tasyahud awal dan
melakukan tasyahud awal.
Pada rakaat terakhir, berapapun jumlah
rakaatnya, setelah bangun dari sujud yang kedua, tidak melakukan duduk
istirahat melainkan duduk tasyahud akhir dan melakukan tasyahud akhir.
16. Cara duduk tasyahud awal
Duduk
dengan posisi duduk iftirasy, kemudian mengangkat jari telunjuk kanan
hingga lurus ke arah kiblat. Sambil membaca doa: “at taahiyaatu lillah
was sholawaatu wat thoyyibaatu, as salaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu
warohmatulloohi wabarokaatuh, assalaamu ‘alaina wa’alaa ibaadillaahis
shoolihiin, asyhadu allaa ilaaha illallooh wa asyhadu anna
muhammadarrosuulullooh” (HR. Bukhari-Muslim). Dan ada beberapa bacaan
doa tasyahud lainnya yang shahih dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam.
Dianjurkan untuk membaca shalawat saat tasyahud awal. Setelah tasyahud
awal, berdiri menuju rakaat ketiga sebagaimana telah dijelaskan.
17. Cara duduk tasyahud akhir
Para
ulama berbeda pendapat mengenai posisi duduk tasyahud akhir, sebagian
ulama menyatakan bahwa posisinya tawarruk, yaitu duduk dengan cara
menegakkan telapak kaki kanan dan posisi jari-jarinya menghadap kiblat.
Sedangkan telapak kaki kiri berada di depan kaki kanan dan bokong
menyentuh lantai. Sebagian ulama menyatakan, untuk shalat yang dua
rakaat, maka duduk tasyahud akhir dengan posisi iftirasy. Namun dalam
masalah ini, perkaranya longgar. Kemudian mengangkat jari telunjuk kanan
hingga lurus ke arah kiblat. Sambil membaca doa tasyahud sebagaimana
pada tasyahud awal, lalu diwajibkan untuk membaca shalawat: “Alloohumma
sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shollaita ‘alaa
Ibroohiim, wa ‘alaa aali Ibroohiim, innaka hamiidummajiid” (HR.
Bukhori-Muslim). Terdapat juga lafadz lain yang shahih dari Nabi
shallallahu’alaihi wasallam .
18. Berdoa sebelum salam
Dianjurkan
membaca doa sebelum salam. Yaitu doa: “Allohumma inni a’udzubika min
‘adzaabi jahannam, wa min ‘adzaabil qobri, wa min fitnatil mahyaa wal
mamaat, wa min syarri fitnati masiihid dajjaal” (HR. Muslim). Kemudian
dianjurkan membaca doa apa saja yang diinginkan.
19. Salam
Dengan
mengucapkan “Assalamu’alaikum warahmatullah” sambil menoleh ke kanan
hingga pipi kanan terlihat dari belakang. Dan mengucapkan
“Assalamu’alaikum warahmatullah” sambil menoleh ke kiri hingga pipi kiri
terlihat dari belakang. Dan tidak terdapat hadits shahih mengenai
mengusap wajah setelah salam, sehingga hal ini tidak perlu dilakukan.
Semoga Allah Ta’ala memberikan taufiq kepada kita semua dan menerima amal ibadah yang kita lakukan.
Semoga bermanfaat












