SEMANGATLAH BERBAGI ILMU AGAMA

  Rezeki Penuntut Ilmu Dijamin Allah SWT ...

Rasululloh -shallallohu alaihi wasallam- bersabda :

“Siapa yang menunjukkan kebaikan, maka baginya pahala orang yang melakukannya..”  
[HR. Muslim].

Ibnul Mubarok rahimahulloh berkata : 

“Aku tidak tahu derajat setelah kenabian yang lebih mulia daripada menyebarkan ilmu (agama)..”  
[Tahdzibul Kamal 16/20].

Ibnul Jauzi -raimahulloh- berkata : 

“Siapa yang tidak ingin terputus amalnya setelah matinya, maka sebarkanlah ilmu (agama)..”  
[At-Tadzkiroh 55].

Ibnul Qoyyim -rahimahulloh- berkata : 

“Mendermakan ilmu (agama) dan memberikannya kepada orang lain, termasuk diantara kedermawanan yang paling tinggi tingkatannya.
Dermawan dengan ilmu (agama) lebih afdhol daripada dermawan dengan harta, karena ilmu (agama) lebih mulia daripada harta..”  
[Madarijus Salikin 2/281].

Syeikh Binbaz -rahimahulloh- berkata : 

“Harusnya engkau berusaha untuk menyebarkan ilmu dengan seluruh semangat dan kekuatanmu. Jangan sampai para pengikut kebatilan lebih giat dalam kebatilannya..”  
[Majmu’ul Fatawa 6/67].

“Yang disyari'atkan bagi seorang muslim ketika mendengar faidah (ilmu) adalah menyampaikannya kepada orang lain. Begitu pula seorang muslimah, hendaknya menyampaikan ilmu yang dia dengar kepada yang lainnya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : 
 
'Sampaikanlah dariku meski hanya satu ayat’, dan dahulu saat berkhutbah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa mengatakan : ‘hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang ghoib (tidak hadir)’..” 
[Majmu’ul Fatawa 4/54].

Syeikh ‘Utsaimin rahimahullah berkata : 

“Aku pernah diwasiati oleh seorang awam, dia mengatakan kepadaku : ‘wahai anakku, berusahalah untuk menyebarkan ilmu, walaupun di majlis-majlis umum, seperti : kopdaran, atau makan bersama, atau yang semisalnya..

Jangan tinggalkan -satu majlis pun- kecuali engkau telah menghadiahkan kepada orang- orang duduk di situ, meski hanya satu masalah..

Orang itu telah mewasiatkan hal ini kepadaku, dan aku juga mewasiatkan hal yang sama kepada kalian, karena itu wasiat yang bermanfaat..” 
[Atta’liq ala shahih Muslim, hadits No. 1147, 1152,1154].

Syeikh Shalih Alu Syeikh -hafizhohulloh- berkata : 

“Perjuangan (jihad) yang paling besar untuk melawan musuh Allah Jalla Wa’ala dan setan adalah menyebarkan ilmu, maka sebarkanlah ilmu di semua tempat, sesuai kemampuanmu..”  
[Al-Washoyal Jaliyyah : 46]

Maka hendaklah kita bersemangat dalam menyebarkan ilmu agama, terutama ilmu tentang Allah dan ilmu tentang Rasul-Nya.

Karena ilmu yang paling mulia adalah ilmu tentang Allah (Tauhid), karena ia berhubungan dengan Allah Ta’ala, dzat yang paling mulia 
Kemudian ilmu tentang Nabi dan sunnahnya, karena beliau adalah makhluk yang paling mulia, dan sunnahnya merupakan ajaran yang paling tinggi derajatnya.

Dan ingatlah bahwa berbagi ilmu agama, tidak harus dengan membuat status sendiri, tapi bisa juga dengan menyebarkan status yang ditulis orang lain.

Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

https://bbg-alilmu.com/archives/58696

--------------------------------------------
𝕭𝖎𝖘𝖒𝖎𝖑𝖑𝖆𝖍...🌹

𝐈𝐤𝐮𝐭 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞 𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐁𝐄𝐑𝐆𝐀𝐁𝐔𝐍𝐆 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐠𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐥𝐢𝐧𝐤 𝐆𝐫𝐮𝐩 𝐝𝐢 𝐛𝐚𝐰𝐚𝐡 𝐢𝐧𝐢 𝐌𝐮𝐭𝐢𝐚𝐫𝐚 𝐒𝐚𝐥𝐚𝐟
𝐊𝐡𝐮𝐬𝐮𝐬 𝐀𝐤𝐡𝐰𝐚𝐭
https://chat.whatsapp.com/HEwhB7DsxYe6jJiOZvIjjF

𝐊𝐡𝐮𝐬𝐮𝐬 𝐈𝐤𝐡𝐰𝐚𝐧
https://chat.whatsapp.com/LKxRUIVTflH2Y2S1ELJCrN

Share:

𝗔𝘀𝗵𝗮𝗯𝗶𝘆𝘆𝗮𝗵 𝗔𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗙𝗮𝗻𝗮𝘁𝗶𝗸 𝗕𝘂𝘁𝗮

Pengertian Ashabiyah serta Hadis yang ...

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ.
— رواه أبو داود (4456)

Dari Jubair bin muth'im radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda : "Bukan termasuk golongan kami orang yang mengajak kepada ‘ashabiyyah, bukan termasuk golongan kami orang yang berperang karena ‘ashabiyyah, dan bukan termasuk golongan kami orang yang mati karena ‘ashabiyyah."
(HR. Abū Dāwūd no. 4456, shahih)

*Pelajaran yang terdapat di dalam hadits :

* ‘Ashabiyyah adalah sikap fanatik buta, membela kelompok, bangsa, golongan, atau tokoh tanpa melihat benar atau salah.

* Islam melarang keras segala bentuk fanatisme yang melampaui kebenaran.

* Kebenaran bukan diukur dari kelompok, tapi dari wahyu (Al-Qur’ān) dan sunnah Nabī ﷺ.

* Orang yang mati dalam keadaan fanatik terhadap kelompok, mati seperti mati dalam jahiliyyah.

* Bahkan bila berperang hanya demi simbol kelompok atau kebangsaan, tidak termasuk dalam ummat Nabī ﷺ.

*Tema Hadits yang berkaitan dengan Al qur'an :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

"Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan, lalu Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allāh ialah yang paling bertakwa."
(QS. Al-Ḥujurāt: 13)

•Watsilah bin al-Asqa‘ رضي الله عنه meriwayatkan bahwa ia pernah bertanya kepada Nabī ﷺ:

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا الْعَصَبِيَّةُ؟ قَالَ: أَنْ تُعِينَ قَوْمَكَ عَلَى الظُّلْمِ
"Aku bertanya: Wahai Rasūlullāh, apakah itu ‘ashabiyyah?
Beliau ﷺ menjawab: Engkau menolong kaummu dalam kebatilan."
(HR. Abū Dāwūd)

•Imām Ibn Taymiyyah رحمه الله berkata:
"Siapa saja yang membela kelompoknya walau di atas kebatilan dan memusuhi pihak lain meski di atas kebenaran, maka itulah bentuk ‘ashabiyyah jahiliyyah."
(Majmū‘ Fatāwā 28/20)

Fanatisme bukan hanya terbatas pada suku atau bangsa, tapi termasuk membela partai, organisasi, tokoh, atau kelompok walau menyelisihi syarī‘at.

Banyak umat Islam hari ini lebih cepat tersulut jika tokoh idolanya dikritik, namun diam ketika Allāh ﷻ dan Nabī ﷺ dihina.

𝗗𝗶 𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮 𝗯𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸 ‘𝗮𝘀𝗵𝗮𝗯𝗶𝘆𝘆𝗮𝗵:
➤ Membela negara karena nasionalisme buta.
➤ Membela organisasi tanpa melihat kesesuaian dengan sunnah.
➤ Menolak nasihat karena disampaikan bukan dari golongan sendiri.

‘Ashabiyyah adalah jalan kepada perpecahan, kesombongan, dan kezhaliman.

اللَّهُمَّ أَجِرْنَا مِنْ دَاءِ العَصَبِيَّةِ وَأَهْلِهَا، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَنْصُرُ الحَقَّ وَيَتَّبِعُ السُّنَّةَ، وَيَلْزَمُ الجَمَاعَةَ عَلَى مَا أَنْتَ تُحِبُّ وَتَرْضَى

"Yā Allāh, lindungilah kami dari penyakit ‘ashabiyyah dan pengikutnya. Jadikan kami sebagai penolong kebenaran, pengikut sunnah, dan orang yang senantiasa bersama jama‘ah yang Engkau cintai dan ridhai."

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb

Demikian, Semoga Bermanfaat. Aamiin

Aqulu qauli hadza, wa astaghfirullahal Adzim li wa lakum. 

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ

Subhanaka Allahuma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik... 

“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu”.

==================================

🍃 Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺑَﻠِّﻐُﻮﺍ ﻋَﻨِّﻰ ﻭَﻟَﻮْ ﺁﻳَﺔً

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”
(HR.Bukhari)


Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﻫُﺪًﻯ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﻣِﻦَ ﺍْﻷَﺟْﺮِ ﻣِﺜْﻞُ ﺃُﺟُﻮْﺭِ ﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺃُﺟُﻮْﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ، ﻭَﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺿَﻠَﺎﻟَﺔٍ ، ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺈِﺛْﻢِ ﻣِﺜْﻞُ ﺁﺛَﺎﻡِ ﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺁﺛَﺎﻣِﻬِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ

Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak (manusia) kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.
(HR.Muslim)

Dakwah di jalan Allâh Azza wa Jalla merupakan amal yang sangat mulia, ketaatan yang besar dan ibadah yang tinggi kedudukannya di sisi Allâh Subhanahu wa Ta’ala.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ﻭَﻟْﺘَﻜُﻦْ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺃُﻣَّﺔٌ ﻳَﺪْﻋُﻮﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻭَﻳَﺄْﻣُﺮُﻭﻥَ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﻳَﻨْﻬَﻮْﻥَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِۚ ﻭَﺃُﻭﻟَٰﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang  yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
(QS.Ali-Imran [3] :104)

Dinukil dari berbagai Sumber Yang In Syaa Allah amanah, dengan sedikit perubahan (terjemah bebas) sesuai dengan Pemahaman Shalafus Shalih (Alhus Sunnah Wal Jamaah) oleh : Hamba Allah 

❄ S I L A H K A N    D I S H A®E
Semoga bermanfaat bagi Ummat...

Selamat beraktifitas...

Baarakallahufiikum...

Share:

Bagaimana Imam Bukhari Wafat

Saat Imam Bukhari Menolak Pintu Istana ...

Imam Bukhari mendapat tekanan keras di akhir hayatnya dari penguasa kota-kota muslim. Lebih tepatnya kota Naisabur, Bukhara, dan Samarkhan. 

Di antara sebabnya:

- Imam Bukhari menolak mengajarkan anak-anak mereka di istana. Beliau selalu berkata: "Ilmu itu didatangi. Bukan dibawakan ke pintu-pintu" 

- Rasa iri sebagian orang terhadap Imam Bukhari karena ketenaran dan sejarah yang ditorehnya. 

- Dan sebab-sebab lainnya. 

Ketika Imam Bukhari berumur 62 tahun, penguasa Naisabur memerintahkannya untuk keluar dari kota dan berkata bahwa keberadaannya tidak lagi diharapkan. 

Beliau pun meninggalkan Naisabur hingga sampai di tanah lahirnya, Bukhara. Orang berbondong-bondong menyambutnya di gerbang kota dengan harta dan gula. Masyarakat biasa, penuntut ilmu, dan sebagian ahli hadist berkumpul di sana meninggalkan majelis ahli hadis lain sehingga hal itu membuat panas hati sebagian orang. 

Tetapi tidak berselang lama, ketenaran itu membuat murka penguasa Bukhara, di samping datangnya surat dari penguasa Naisabur bahwa Imam Bukhari harus segera diusir dari Bukhara sebagaimana beliau diusir sebelumnya dari Naisabur. 

Utusan penguasa Bukhara sampai di depan rumah dan meminta Imam Bukhari untuk segera meninggalkan Kota. Perintahnya berbunyi "Sekarang juga" beliau harus keluar!. 

Imam Bukhari bahkan tidak diberi waktu untuk sekedar mengumpulkan dan merapikan buku-bukunya. Beliau terpaksa keluar kemudian berkemah di perbatasan Kota selama tiga hari untuk merapikan buku-bukunya sedangkan beliau tidak tau entah mau pergi kemana. 

Imam Bukhari akhirnya memutuskan berangkat ke arah Kota Samarkhan. Tidak sampai masuk ke Kota, beliau berbelok ke arah salah satu desa disekitarnya, desa Kartank. Bertamu kepada sebagian kerabatnya di sana. Kali ini beliau ditemani oleh Ibrahim bin Ma'qil. 

Tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Pengawal penguasa Samarkhan pun sampai di depan pintu rumah tempat Imam Bukhari bertamu.

Kali ini perintah dari penguasa Samakhan adalah: Imam Bukhari harus keluar dari Samarkhan dan desa-desa sekitarnya. Padahal saat itu adalah malam Idul Fitri. Sayangnya, beliau disuruh untuk keluar "Sekarang" bukan setelah Idul Fitri. 

Imam Bukhari takut membuat masalah untuk kerabat yang sudah memuliakannya. Ibrahim bin Ma'qil merapikan buku beliau di salah satu tunggangan beliau dan menyiapkan tunggangan lainnya untuk Imam Bukhari. 

Ibrahim bin Ma'qil kembali ke rumah, barulah Imam Bukhari keluar dalam keadaan terpaksa. Keduanya berjalan menuju tunggangan. 

Setelah 20 langkah, Imam Bukhari merasakan letih yang amat sangat. Beliau meminta Ibnu Ma'qil menunggunya sebentar untuk beristirahat. 

Imam Bukhari duduk di tepi jalan kemudian tertidur. Beberapa menit setelahnya, ketika Ibnu Ma'qil ingin menbangunkan beliau, ternyata ruh beliau sudah diangkat ke sisi Allah. Rahimahullah. 
Imam Bukhari wafat di tepi jalan pada malam Idul Fitri, 1 Syawal 256H. Dalam keadaan terusir dari satu kota ke kota lain di usia tuanya, 62 tahun.

Hari ini, tidak ada yang mengenali nama penguasa Naisabur, Bukhara, dan Samarkhan ketika itu. Tetapi semua kenal dengan Imam Bukhari. 

Semoga Allah merahmati Imam Bukhari dan mengangkat derajatnya di surga yang tinggi bersama para nabi, syuhada, dan orang-orang salih.
 
📔 Siyar A'lam An-Nubala 12/468

Barakallahu fiikum🌹

Share:

RENUNGAN NASEHAT

 Padahal 95 Persen Daratannya Adalah Padang Pasir, Arab Saudi ...

Siapa yg mencipatkan kita ? Allah...
Siapa yg menjamin rezeki kita ? Allah...
Siapa yg mengampuni dosa-dosa kita ? Allah...
Siapa yg memberikan Husnul Khatimah kita ? Allah...
Siapa yg memberikan pahala kita ? Allah...
Siapa yg memberikan hidayah kita ? Allah...
Siapa yg menghisab kita ? Allah...
Siapa yg Maha Kuasa ? Allah...
Siapa yg memiliki langit bumi berserta isinya ? Allah...
Siapa yg memiliki surga ? Allah...

Jika kita sadari bahwa semua dari Allah dan milik Allah lantas mengapa kita risaukan hinaan dan omongan buruk orang lain kepada kita ??

Bukankah tuhan kita bukan omongan orang, tulisan orang, hinaan orang, penilaian orang.

Karena itu, Selama kita di jalan yg benar dan berbuat baik, Maka jalan saja terus, jangan pedulikan mereka, sebab tujuan kita Allah.

Percayalah!! Meskipun seluruh manusia menghina kita, merendahkan kita, berusaha mencelakakan kita, tidak akan pernah berubah takdir yg telah Allah berikan kepada kita.

Dan ingatlah pula bahwa kelak kita juga akan sendiri-sendiri, Maka apa pedulinya dengan hinaan dan penilaian buruk manusia.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman :

وَلَقَدۡ جِئۡتُمُونَا فُرَٰدَىٰ كَمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ أَوَّلَ مَرَّة...

Dan kamu benar-benar datang sendiri-sendiri kepada Kami sebagaimana Kami ciptakan kamu pada mulanya..." (QS. Al-An'aam [6]: 94)

AI-Hasan aI-Bashri rohimahullah berkata, ⁣⁣
⁣⁣
يا ابن آدم اعلم انك تموت وحدك وتدخل قبرك وحدك وتبعث وحدك وتحاسب وحدك

Wahai anak Adam ketahuilah bahwasanya sungguh..

1. Engkau akan mati sendirian..⁣
2. Masuk ke liang kubur pun sendirian.
3. Dibangkitkan sendirian, dan
4. Mempertanggung jawabkan perbuatanmu juga sendirian. (Bahrud Dumuu' hal: 102)⁣⁣

Demikianlah kelak keadaan setiap manusia pada hari kiamat, ia akan datang dihisab sendiri-sendiri untuk menghadapi perhitungan

Amal dan pembalasanya, sebagai mana dahulu ia di ciptakan di dunia pertama kali dalam keadaan tanpa alas kaki dan telanjang.

Dan pada hari itu tak seorang pun dapat membantu atau menolong kita, meskipun didunia dahulu mereka sangat perhatian atau sebaliknya mereka dahulu membenci kita. 

Karena pada hari itu kita sendirilah yg akan mempertanggung jawabkan semua perbuatan kita.

Semoga Allah 'Azza wa Jalla memberikan kita keteguhan hati, kesabaran dan keistiqomah di jalan-Nya, sehingga kelak kita dapat berkumpul di surga-Nya. Aamiin.

Habibie Quotes,


Share:

JUMLAH RAKAAT SHALAT DHUHA

Suami istri meninggal karena tersesat di padang pasir Saudi ...

Batas Minimal Jumlah Rakaat Shalat Dhuha

Jumlah minimal rakaat shalat dhuha adalah dua rakaat. Dalilnya hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwasiat padanya tiga perkara, yang salah satunya adalah:

وركعتي الضُّحى

"Dan (hendaklah lakukan) dua rakaat shalat dhuha". [HSR. Bukhari 1981 dan 721]

Ada lagi sebenarnya hadits shahih lain yang menunjukkan bahwa shalat dhuha dapat dikerjakan cukup dengan dua rakaat. Atas dasar ini empat madzhab sepakat menetapkan bahwa shalat sunnah dhuha sekurang-kurangnya dua rakaat. Ini adalah pendapat dari Madzhab Hanafi (Hasyiah Ibnu Abidin II:23), Maliki (Mawaahibul Jalil II:372), Syafi’i (Al-Majmu’ IV:36), Hanbali (Al-Mughni II:97).

Batas Maksimal Jumlah Rakaat Shalat Dhuha

Dalam hal ini Ulama berbeda pendapat, ada yang menyebutkan 8 rakaat, ada yang menyatakan 12 rakaat. Tetapi pendapat yang paling benar adalah tidak ada batasan maksimal jumlah rakaat shalat dhuha. Artinya, seseorang boleh melakukan shalat dhuha dengan cara dua rakaat salam - dua rakaat salam sampai berapa kali pun selagi masih dalam ambang batas waktu shalat dhuha.

Dalil yang menunjukkan kuatnya pendapat ini adalah diantaranya hadits dari Aisyah radhiallahu ‘anha menceritakan:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعاً ، وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللهُ

"Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat dhuha empat rakaat dan menambahkannya sesuai dengan kehendak Allah". [HR. Muslim 719]

Hadits itu menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam biasa pula mengerjakan shalat dhuha lebih dari empat rakaat, yakni tanpa batasan rakaat, sekuatnya dan semampunya.

Pendapat yang menyatakan bahwa shalat dhuha itu tidak ada batasan maksimal rakaatnya selagi masih dalam ambang waktu shalat dhuha adalah pendapat dari Ibnu Jarir At-Thabari rahimahullah (Zaadul Ma’aad I:351-352), Syaikh bin Baaz rahimahullah (Majmu Fatawa XI:402) dan Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah (As-Syarhul Mumti IV:85-86)

Kesimpulannya, batas minimal shalat dhuha adalah dua rakaat, sementara batas maksimalnya tidak terbatas selagi masih dalam ambang batas waktu shalat dhuha.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

✍🏻 Oleh Ustadz Berik Said hafidzhahullah
https://dakwahmanhajsalaf.com/2020/10/jumlah-rakaat-shalat-dhuha.html

posting by Sawang Sinawang

Share:

TERBONGKAR, TERNYATA SHALAT ISYA 4 RAKAAT SETELAH ISYA PAHALANYA SEPERTI SHALAT DI MALAM

Apa itu qiyamul lail? | Noor Academy

Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash berkata :

✅ Siapa yang sholat (sunnah) 4 roka’at setelah (Sholat) Isya’, maka 4 roka’at tersebut seperti keutamaannya 4 ROKA’ATNYA malam Laitul Qodar.

(HR Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf no 7273. Sanadnya shahih).

✅ Aisyah rodliyallahu ‘anha berkata :
4 roka’at setelah (Sholat) Isya’, sebanding dengan yang semisal 4 ROKA’AT TERSEBUT pada malam Lailatul Qodar.

(HR Ibnu Abi Syaibah no 7274. Sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim).

✅ Abdullah bin Mas’ud Radliyallahu ‘anhu berkata:

Siapa yang sholat (sunnah) 4 roka’at setelah (Sholat) Isya’, dia tidak memisah roka’at-roka’at tersebut dengan salam, maka 4 roka’at tersebut sebanding dengan yang semisal 4 ROKA’AT TERSEBUT pada MALAM LAYLATUL QODAR.

(HR Ibnu Abi Syaibah no 7275. Sanadnya shahih sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim)

Walaupun semuanya mauquf, Namun dihukumi marfu’.

Ibnu ‘Abbas berkata :
Aku pernah menginap di rumah bibiku maimunah binti Al Harits istri Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Nabi sholat Isya, lalu pulang ke rumahnya dan sholat empat raka’at. Lalu beliaupun tidur..”

(HR Al Bukhari no 117 dan 665).

Hadits-hadits di atas kuat sanadnya, dan bisa dijadikan sandaran amalan -wallahu a’lam

✅ Shalat 4 Rakaat sebagai mana yang dimaksud di atas BUKAN SHALAT RAWATIB BA'DIYAH ISYA, karena jumlah rawatib ba'diyah Isya telah dijelaskan dalam hadits lain, yaitu jumlahnya 2 roka'at. Jadi setelah sholat fardhu Isya, kita sholat sunnah rowatib ba'diyah Isya 2 raka'at, lalu sholat sunnah 4 raka'at ini. Wallahu a'lam

✅ Tata caranya adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh 'Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'anhu, yaitu 2 tahiyat dan satu salam.


Wallahu a'lam. Ustadz Badru

Share:

AMALAN-AMALAN BERPAHALA SEPERTI SHALAT MALAM (10) NIAT SHALAT MALAM SEBELUM TIDUR

 Qiyamul Lail Artinya Ibadah di Malam ...

Meniatkan qiyamul lail sebelum tidur

Dari Abu Darda I, merafa’kannya kepada Nabi H, beliau bersabda,

«مَنْ أَتَى فِرَاشَهُ وَهُوَ يَنْوِي أَنْ يَقُومَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ  فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ حَتَّى أَصْبَحَ  كُتِبَ لَهُ مَا نَوَى  وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ»

“Barangsiapa mendatangi tempat tidurnya, sementara dia berniat untuk berdiri shalat malam, lalu (kantuk) kedua matanya mengalahkannya hingga subuh, maka dituliskan baginya apa yang telah dia niatkan. Dan jadilah tidurnya (tadi malam) merupakan sedekah dari Tuhan-nya E untuknya.” ([1])

Tahukah engkau pentingnya niat, bahwa ia mengalir pada aliran amal?! Karenanya kita dapati keriskanan orang yang tidur tanpa berniat akan melaksanakan shalat fajar pada waktunya, padahal untuk kerja dan sekolahnya engkau dapati mereka bersusah-payah memasang alarm.

Orang seperti ini terus menerus melakukan salah satu dosa besar. Jika meninggal dalam keadaan seperti itu, berarti telah “su’ul khâtimah” (buruk pengakhirannya) -kita berlindung kepada Allah dari padanya-.

Adapun orang yang meniatkan bangun untuk shalat fajar dan telah mencurahkan tenaga untuk sebab-sebab hal itu kemudian dia tidak bangun, maka tidak ada celaan atasnya karena tidak ada kelalaian dalam tidur. Kelalaian itu ada dalam keadaan terjaga.

_______________

Footnote:

([1]) HR. an-Nasai (1787), Ibnu Majah (1344) dan dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ (5941).

Untuk lebih lengkapnya, Yuk baca artikel ini di website attabiin.com pada url:
https://www.attabiin.com/amalan-amalan-berpahala-seperti-shalat-malam-10-niat-shalat-malam-sebelum-tidur/

Share:

Radio Islam Indonesia

LISTEN QURAN

Listen to Quran

Popular Posts

Blog Archive

Recent Posts

Pages