𝗔𝘀𝗵𝗮𝗯𝗶𝘆𝘆𝗮𝗵 𝗔𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗙𝗮𝗻𝗮𝘁𝗶𝗸 𝗕𝘂𝘁𝗮

Pengertian Ashabiyah serta Hadis yang ...

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ.
— رواه أبو داود (4456)

Dari Jubair bin muth'im radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda : "Bukan termasuk golongan kami orang yang mengajak kepada ‘ashabiyyah, bukan termasuk golongan kami orang yang berperang karena ‘ashabiyyah, dan bukan termasuk golongan kami orang yang mati karena ‘ashabiyyah."
(HR. Abū Dāwūd no. 4456, shahih)

*Pelajaran yang terdapat di dalam hadits :

* ‘Ashabiyyah adalah sikap fanatik buta, membela kelompok, bangsa, golongan, atau tokoh tanpa melihat benar atau salah.

* Islam melarang keras segala bentuk fanatisme yang melampaui kebenaran.

* Kebenaran bukan diukur dari kelompok, tapi dari wahyu (Al-Qur’ān) dan sunnah Nabī ﷺ.

* Orang yang mati dalam keadaan fanatik terhadap kelompok, mati seperti mati dalam jahiliyyah.

* Bahkan bila berperang hanya demi simbol kelompok atau kebangsaan, tidak termasuk dalam ummat Nabī ﷺ.

*Tema Hadits yang berkaitan dengan Al qur'an :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

"Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan, lalu Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allāh ialah yang paling bertakwa."
(QS. Al-Ḥujurāt: 13)

•Watsilah bin al-Asqa‘ رضي الله عنه meriwayatkan bahwa ia pernah bertanya kepada Nabī ﷺ:

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا الْعَصَبِيَّةُ؟ قَالَ: أَنْ تُعِينَ قَوْمَكَ عَلَى الظُّلْمِ
"Aku bertanya: Wahai Rasūlullāh, apakah itu ‘ashabiyyah?
Beliau ﷺ menjawab: Engkau menolong kaummu dalam kebatilan."
(HR. Abū Dāwūd)

•Imām Ibn Taymiyyah رحمه الله berkata:
"Siapa saja yang membela kelompoknya walau di atas kebatilan dan memusuhi pihak lain meski di atas kebenaran, maka itulah bentuk ‘ashabiyyah jahiliyyah."
(Majmū‘ Fatāwā 28/20)

Fanatisme bukan hanya terbatas pada suku atau bangsa, tapi termasuk membela partai, organisasi, tokoh, atau kelompok walau menyelisihi syarī‘at.

Banyak umat Islam hari ini lebih cepat tersulut jika tokoh idolanya dikritik, namun diam ketika Allāh ﷻ dan Nabī ﷺ dihina.

𝗗𝗶 𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮 𝗯𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸 ‘𝗮𝘀𝗵𝗮𝗯𝗶𝘆𝘆𝗮𝗵:
➤ Membela negara karena nasionalisme buta.
➤ Membela organisasi tanpa melihat kesesuaian dengan sunnah.
➤ Menolak nasihat karena disampaikan bukan dari golongan sendiri.

‘Ashabiyyah adalah jalan kepada perpecahan, kesombongan, dan kezhaliman.

اللَّهُمَّ أَجِرْنَا مِنْ دَاءِ العَصَبِيَّةِ وَأَهْلِهَا، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَنْصُرُ الحَقَّ وَيَتَّبِعُ السُّنَّةَ، وَيَلْزَمُ الجَمَاعَةَ عَلَى مَا أَنْتَ تُحِبُّ وَتَرْضَى

"Yā Allāh, lindungilah kami dari penyakit ‘ashabiyyah dan pengikutnya. Jadikan kami sebagai penolong kebenaran, pengikut sunnah, dan orang yang senantiasa bersama jama‘ah yang Engkau cintai dan ridhai."

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb

Demikian, Semoga Bermanfaat. Aamiin

Aqulu qauli hadza, wa astaghfirullahal Adzim li wa lakum. 

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ

Subhanaka Allahuma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik... 

“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu”.

==================================

🍃 Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺑَﻠِّﻐُﻮﺍ ﻋَﻨِّﻰ ﻭَﻟَﻮْ ﺁﻳَﺔً

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”
(HR.Bukhari)


Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﻫُﺪًﻯ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﻣِﻦَ ﺍْﻷَﺟْﺮِ ﻣِﺜْﻞُ ﺃُﺟُﻮْﺭِ ﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺃُﺟُﻮْﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ، ﻭَﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺿَﻠَﺎﻟَﺔٍ ، ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺈِﺛْﻢِ ﻣِﺜْﻞُ ﺁﺛَﺎﻡِ ﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺁﺛَﺎﻣِﻬِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ

Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak (manusia) kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.
(HR.Muslim)

Dakwah di jalan Allâh Azza wa Jalla merupakan amal yang sangat mulia, ketaatan yang besar dan ibadah yang tinggi kedudukannya di sisi Allâh Subhanahu wa Ta’ala.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ﻭَﻟْﺘَﻜُﻦْ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺃُﻣَّﺔٌ ﻳَﺪْﻋُﻮﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻭَﻳَﺄْﻣُﺮُﻭﻥَ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﻳَﻨْﻬَﻮْﻥَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِۚ ﻭَﺃُﻭﻟَٰﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang  yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
(QS.Ali-Imran [3] :104)

Dinukil dari berbagai Sumber Yang In Syaa Allah amanah, dengan sedikit perubahan (terjemah bebas) sesuai dengan Pemahaman Shalafus Shalih (Alhus Sunnah Wal Jamaah) oleh : Hamba Allah 

❄ S I L A H K A N    D I S H A®E
Semoga bermanfaat bagi Ummat...

Selamat beraktifitas...

Baarakallahufiikum...

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Radio Islam Indonesia

LISTEN QURAN

Listen to Quran

Popular Posts

Blog Archive

Recent Posts

Pages