• Home
  • Downloads
    • kitab Islam
    • Artikel Islam
    • Software Islam
  • TV Radio
    • TV
      • Rodja TV
      • Insan TV
      • Wesal TV
    • Radio Rodja
    • Radio Muslim
    • Suara Quran Lombok
  • Kisah Muslim
  • Quran Streaming
    • Alim.org
    • Abqary.com
  • Twitter Facebook Google Plus Instagram Youtube Linkedin RSS Feed
 ABU AISH
  • Home
  • Tholabul Ilmi
    • Tafsir Al Quran
    • Artkel Islam
    • Kisah Muslim
  • Downloads
    • Kitab Islam
    • KItab Salaf
    • Software Islam
      • Office
  • Pengusaha Islam
    • Muamalah
      • Bisnis Online
      • Pertanian
      • E book Bisnis
    • Mesin Pencari Islam
    • Dzikir Pagi Petang
    • E Book Islam
  • Tip Sehat
  • Ala Nabi
    • Ala Zaidul
    • Umum
  • Kajian

12 GOLONGAN MANUSIA YANG DI DOAKAN MALAIKAT

sunnahposOktober 26, 2021 Tidak ada komentar

 Doa Setelah Adzan Lengkap Saat Subuh & Magrib Beserta Arti, Ketahui Pula  Keutamaannya | merdeka.com

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
“Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.” (HR. Imam Ibnu Hibban dari Abdullah bin Umar)

2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.
“Tidaklah salah seorang di antara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’.” (HR. Imam Muslim dariAbu Hurairah, Shahih Muslim 469).

3. Orang-orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah.
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan.” (Imam Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah dari Barra’ bin ‘Azib)

4. Orang yang menyambung shaf shalat berjamaah (tidak membiarkan kosong di dalam shaf).
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu berselawat kepada orang-orang yang menyambung shaf-shaf.” (Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim meriwayatkan dari Aisyah)

5. Para malaikat mengucapkan ‘aamiin‘ ketika seorang Imam selesai membaca Al-Fatihah.
“Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu.” (HR. Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.
“Para malaikat akan selalu berselawat (berdoa) kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya,(para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia.'” (HR. Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106)

7. Orang-orang yang melakukan shalat Shubuh dan Ashar secara berjamaah.
” Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian merekaberkumpul lagi pada waktu shalat ‘asar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat.'” (HR. Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al-Musnad no. 9140)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
“Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikatyang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan.'” (HR. Imam Muslim dari Ummud Darda’, Shahih Muslim 2733)

9. Orang-orang yang berinfak.
“Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit (bakhil).'” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari1442 dan Shahih Muslim 1010)

10. Orang yang sedang makan sahur.
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (berdoa ) kepada orang-orang yang sedang makan sahur” Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa “sunnah”. (HR. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, dari Abdullah bin Umar)

11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit.
“Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70,000 malaikat untuknya yang akan berselawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh.” (HR. Imam Ahmad dari ‘Ali bin Abi Thalib, Al-Musnad no. 754)

12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
“Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (HR Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al-Bahily)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Sebenarnya (malaikat – malaikat itu) adalah hamba – hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah – perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang di belakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa’at melainkan kepada orang – orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati – hati karena takut kepada-Nya” (Q.S. Al-Anbiya: ayat 26-28)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al-Ahzab: ayat 43)

Masya Allah, alangkah bahagianya menjadi orang-orang yang dicintai para malaikat.
Sebab mendapatkan syafa’at, pertolongan, dan do'anya.

Wallahu A'lam Bishawab 



Share: Share
Read More

KENAPA TERJADI BENCANA

sunnahposOktober 26, 2021 Tidak ada komentar

Penanganan Bencana Berbasis Prinsip Kemanusiaan | Universitas Surabaya  (UBAYA)

👤 Wahai saudaraku seiman,

sesungguhnya tidak mungkin ada asap tanpa api dan tidak mungkin ada akibat tanpa sebab, begitu juga tidak mungkin terjadi bencana tanpa pelanggaran dan kemaksiatan yang diperbuat oleh manusia.

💥 Dan suatu sikap wajar ketika ada seorang masuk ke halaman rumah orang lain, terus bertingkah dan tidak beradab maka sewajarnya sang pemilik rumah murka dan memberi sangsi sebagai teguran dan peringatan.

❗Dan sebelum teguran Allah datang berupa musibah terutama kematian sementara kita tidak mempunyai daya upaya untuk menolaknya maka renungkan firman Allah berikut ini;

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ [الحديد : 16]

💥 Belumkah tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan mengingat apa yang telah diturunkan kepada mereka berupa kebenaran al-Quran dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Alkitab kepadanya kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang fasik.

🎙 Ali bin Abu Thalib berkata,

Telah bergegas menuju surga 'Adan sekelompok kaum, bukan karena mereka banyak melakukan shalat, puasa, haji dan umrah, akan tetapi mereka memiliki akal digunakan untuk mencerna nasehat Allah, sehingga membuat hati mereka takut kepada Allah, jiwa mereka tenang dengan kebaikan dan anggota tubuh mereka tunduk khusyuk kepada Allah, akhirnya mereka mengungguli seluruh umat manusia dengan mulianya kedudukan dan tingginya derajat di tengah umat manusia di dunia dan di hadapan Allah kelak di akhirat.

مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ) [رواه ابن ماجة والحاكم]

📌 Wahai kaum Muhajirin sesungguhnya ada lima bencana, kalian akan diuji dengan lima bencana tersebut, Aku berlindung kepada Allah agar tidak menimpa kalian; tidaklah perbuatan keji (zina) merajalela di suatu negeri melainkan akan menyebar wabah dan penyakit yang belum pernah menimpa pada umat sebelum kalian, tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan melainkan Allah akan menimpakan

paceklik, krisis dan jahatnya penguasa atas mereka, tidaklah mereka menghalangi zakat mal melainkan Allah akan menahan hujan dari langit kalau bukan karena sayang kepada hewan ternak ditahan hujannya, tidaklah mereka melanggar janji Allah dan janji Rasul melainkan Allah akan menjadikan mereka dikuasai musuh dan mengambil sebagian dari kekayaan mereka dan tidaklah para penguasa meninggalkan hukum Kitabullah dan tidak memilih hukum yang diturunkan Allah melainkan Allah akan menjadikan dirundung konflik antara mereka.


📚 (H.R Ibnu Majah dan al-Hakim)


✒ Zainal Abidin Syamsuddin, L.c., M.M


🌍 Sumber :

http://www.salamdakwah.com/artikel/4965-kenapa-terjadi-bencana


✒ Editor : Admin Asy-Syamil.com


♻ Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini , semoga bermanfaat.

Jazakumullahu khoiron.


•═══════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═══════•

📮CHANNEL MULIA DENGAN SUNNAH

🌐 https://t.me/MuliaDenganSunnah

🔄 https://t.me/RisalahSunnah

🌍 Website : http://asy-syamil.com

🗳 bit.ly/Asy-SyamilcomDonasi

👥 https://bit.ly/JoinGrupKami

💠️ FB : https://goo.gl/tJdKZY

📱Admin : 081381173870 






Share: Share
Read More

KOREKSI KESALAHAN DALAM BERSUCI

sunnahposOktober 26, 2021 Tidak ada komentar

Berapa Banyak Rasulullah Gunakan Air untuk Berwudhu? - Universitas Pakuan

Thoharoh secara bahasa artinya adalah bersih, lepas dari segala kotoran baik secara hissi (dilihat atau dirasakan) seperti najisnya air kencing dan lain-lain, maupun secara maknawi seperti bersih dari aib dan maksiat.
Sedangkan secara syar’i, thoharoh artinya menghilangkan apa saja yang bisa mencegah dari sholat berupa hadats ataupun najis dengan menggunakan air (atau lainnya), atau menghilangkan hukumnya dengan tanah.

Dalam syariat, thoharoh memiliki kedudukan yang sangat penting diantaranya adalah bahwa thoharoh adalah merupakan syarat sahnya sholat. Nabi shallallahu shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لا تقبل صلاة أحدكم إذا أحدث حتى يتوضأ

“Tidak diterima sholat salah seorang diantara kalian apabila ia berhadats sampai dia berwudhu.” [HR.Bukhari no.135 dan Muslim no.225] Dalam hadits lain dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu, ia berkata: “Sungguh saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لا تقبل صلاة بغير طهور ولا صدقة من غلول

“Allah subhanahu wa ta'ala tidak menerima shalat yang dilakukan tanpa bersuci dan tidak menerima shadaqah dari hasil penipuan (khianat).” (HR.Muslim no.224) Melaksanakan sholat dengan berthoharoh merupakan bentuk pengagungan terhadap Allah subhanahu wa ta'alaSelain itu Allah subhanahu wa ta'ala telah memuji orang-orang yang bersuci, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ ٢٢٢

“Sesungguhmya Allah subhanahu wa ta'ala mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang bersuci.” [Q.S Al-Baqarah: 222] Meremehkan masalah thoharoh bisa berakibat fatal dan merupakan salah satu sebab siksa kubur.
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melewati 2 kubur, kemudian beliau bersabda,

إنهما ليعذبان وما يعذبان في كبير, أما أحدهما فكان لا يستتر من البول

“Sesungguhnya kedua penghuni kubur ini sedang disiksa, dan mereka tidak disiksa karena sebab yang besar (menurut pandangan manusia), adapun salah satunya (disiksa) karena dia tidak menjaga diri dari air kencing.” [HR. Bukhari no.216 dan Muslim no.292]
Oleh karena sebab inilah menjadi sangat penting bagi seorang muslim untuk mempelajari bagaimana cara berthoharoh yang benar, agar seorang muslim ketika beribadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala dalam keadaan yang sempurna, sehingga pengagungan kepada Allah subhanahu wa ta'ala terealisasi dengan baik.

Berikut ini kami persembahkan wahai saudaraku muslim, beberapa kesalahan yang sering dilakukan dalam berthoharoh (bersuci), mudah-mudahan kita bisa meninggalkan kesalahan-kesalahan ini, dan bisa menasehati orang-orang yang terjatuh dalam kesalahan-kesalahan tersebut, agar kita juga bisa meraih pahala dengan menunjukkan orang lain kepada kebaikan.

Melafadzkan niat ketika hendak berwudhu

Niat merupakan syarat sahnya wudhu. Niat adalah kesungguhan dan kesengajaan hati untuk melakukan wudhu dalam rangka melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta'ala dan RasulNya.
Niat tempatnya adalah di hati, adapun melafadzkan niat tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan suri teladan kita  'alaihi wa sallam. Niat munculnya dari dalam hati orang yang berwudhu bahwa ini wudhu untuk sholat, untuk mengangkat hadats atau yang semisalnya, inilah niat.

Tidak pernah Rasulullah di shallallahu 'alaihi wa sallam wudhunya mengucapkan: “Nawaitul wudhu lirof’il hadats...(Aku berniat wudhu untuk menghilangkan hadas...)” atau yang semisalnya. Dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika memulai berwudhu beliau membaca basmalah bukan dengan ucapan lainnya. Maka memulai wudhu dengan mengeraskan bacaan niat merupakan penyelisihan terhadap tuntunan dan perintah beliau. Kalau sekiranya perkara tersebut baik, tentunya sudah diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan diamalkan oleh para sahabatnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
“Tempat niat adalah di hati bukan di lisan dengan kesepakatan imam-imam kaum muslimin pada seluruh ibadah: thoharoh, sholat, zakat, puasa, haji, membebaskan budak, jihad, dan lain sebagainya

.” [Majmu’atur Rasail Kubro (1/234)].

Jika perkataan seseorang dengan lisannya berlainan dengan apa yang diniatkan di dalam hatinya, maka yang dianggap adalah apa yang diniatkan oleh hatinya, bukan yang diucapkannya.

Menyebut nama Allah subhanahu wa ta'ala di dalam WC

Hukum membaca Bismillah adalah wajib berdasarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam ,

توضؤوا باسم الله

“Berwudhulah dengan membaca Bismillah” [HR. Ahmad, An Nasa’i, Ibnu Hibban]
Dan hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لا وضوء لمن لم  يذكر اسم الله عليه

“Tidak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah padanya.” [Shahih HR.Ahmad (II/418) dan selainnya]
Maka barangsiapa berwudhu tanpa membaca basmalah karena lupa atau tidak tahu terhadap hukumnya maka wudhunya tetap sah. Barangsiapa meninggalkannya karena sengaja maka wudhunya batal, menurut salah satu pendapat dari dua pendapat para ulama berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
وضوء لمن لم يذكر اسم الله عليه لا
“Tidak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah padanya.” [HR.Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dari jalan yang banyak yang saling menguatkan). Fatwa Lajnah Daimah (v/203-204, fatwa no.7757)].
Syaikh Muhammad bin Shohih al Utsaimin rahimahullah ditanya, “Jika seseorang berada di dalam kamar mandi, bagaimana cara membaca basmalah?”

Beliau menjawab: “Jika seseorang berada di dalam kamar mandi maka dia harus membaca basmalah di dalam hati bukan dengan lisannya karena kewajiban membaca basmalah dalam wudhu dan mandi tidak harus diucapkan dengan keras, wallahu a’lam.” [Fatawa Arkanil Islam no.130]

Meninggalkan istinsyaq dan istinsar

Meninggalkan istinsyaq dan istintsar. Istinsyaq adalah menghirup air lewat hidung sampai ke pangkal hidung, dan istintsar adalah mengeluarkan air yang dihirup tadi dari hidung. Sebagian kaum muslimin ketika bewudhu hanya memasukan jarinya yang basah ke dalam hidung, dan ini tentunya menyelisihi petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, karena beliau memerintahkan untuk beristinsyaq dan beristintsar. Dalil tentang istinsyaq dan istintsar adalah hadits-hadits berikut ini;
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إذا توضأ أحدكم فليجعل في أنفه ماء ثم ليستنثر

“Apabila salah seorang diantara kalian berwudhu hendaknya menjadikan air di dalam hidungnya (menghirupnya) kemudian hendaknya ia beristintsar (semburkanlah).” [HR. Bukhari no.161 dan Muslim no.237]
Dalam hadits Laqith bin Shabirah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

وبالغ في الاستنشاق إلا أن تكون صائما

“Dan bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq (menghirup air ke hidung) kecuali apabila engkau sedang berpuasa.” [HR.Abu Dawud no.142 dan At-Tirmidzi no.38]

Tidak membasuh sisi mukanya dengan sempurna

Membasuh wajah merupakan salah satu rukun wudhu, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ ٦

“Wahai orang-orang yang beriman apabila kalian hendak melaksanakan sholat maka basuhlah wajah kalian.” [QS.Al Maidah: 6] Batasan wajah yang harus dibasuh adalah antara tempat tumbuhnya rambut (di atas dahi/kening) sampai tempat tumbuhnya jenggot dan dagu, dan dari pinggir telinga sampai pinggir telinga yang lainnya, dan masuk pula sendi-sendi antara jenggot dan telinga.

Imam Bukhari dan Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Humran bin Aban radhiyallahu 'anhu bahwa Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu meminta air wudhu, lalu menyebutkan sifat wudhu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian ia berkata: ”Kemudian membasuh wajahnya tiga kali.”

Tidak meyempurnakan membasuh kedua tangan sampai siku

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى ٱلۡمَرَافِقِ ٦

“Wahai orang-orang yang beriman apabila kalian hendak melaksanakan sholat maka basuhlah wajah kalian dan  tangan kalian sampai siku.” [QS.Al Maidah :6] Yang perlu diperhatikan adalah

bahwa lafazh “Ila (sampai)” adalah bermakna “ma’a (bersama)”.
Artinya adalah bahwa kedua siku termasuk bagian dari tangan yang harus dicuci, dan ini juga merupakan pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Maka batasan tangan yang harus dicuci adalah dari ujung-ujung jari tangan sampai kedua siku (bersama siku).

Hanya mengusap ujung kepala/ tengahnya saja

Para ulama bersepakat bahwa mengusap kepala termasuk diantara fardhunya wudhu, mereka hanya berselisih dalam hal bagian yang harus dibasuh, apakah seluruhnya ataukah sebagian saja.
Pendapat yang lebih rajih (kuat) -Allahu a’lam- adalah mengusap seluruhnya, berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta'ala,
وامسحوا  برؤوسكم

“Dan usaplah kepalamu.” [QS.Al-Maidah : 6] Huruf ba’ dalam ayat ini adalah lil ilshaq (untuk melekatkan) jadi makna ayat tersebut “usaplah kepalamu” mencakup seluruh bagian kepala.
Hal yang lebih menguatkan pendapat ini adalah praktek wudhu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam  dan ternyata beliau mengusap seluruh kepalanya sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim melalui sahabat Abdullah bin Zaid radhiyallahu 'anhu.

Mengusap kepala lebih dari sekali

Ini bertentangan dengan petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam karena beliau selalu mengusap kepalanya hanya satu kali, sebagaimana yang telah tsabit dalam hadits ‘Ali radhiyallahu 'anhu tentang sifat wudhu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam  berwudhu dengan mengusap kepalanya satu kali, kemudian ia berkata: “Siapa yang ingin melihat bersucinya Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam, seperti inilah cara beliau bersuci.” [Shahih HR.Abu Dawud dan An-Nasai]
Imam Abu Daud radhiyallahu 'anhu berkata, “Hadits-hadits yang shohih dari ‘Utsman radhiyallahu 'anhu seluruhnya menunjukkan bahwa pengusapan kepala hanya satu kali.” ([unan Abi Dawud no.108]

Tidak membasuh tumit dan tidak menyela-nyela jari-jemari tangan dan kaki

Tidak sempurna dalam membasuh anggota wudhu dan mengakibatkan ada sebagian anggota wudhu yang tidak terbasuh oleh air.

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu 'anhu ia berkata,
“Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah tertinggal dari kami dari kami dalam satu perjalanan safarnya, beliau lalu menyusul kami sedang ketika itu kami terpaksa menunda waktu Ashar sampai menjelang akhir waktunya, maka kami mulai berwudhu dan membasuh kaki-kaki kami. Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu 'anhu melanjutkan, kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan suara yang keras,
ويل للأعقاب من النار
“Celakalah tumit-tumit (yang tidak terbasuh air ketika berwudhu) dari api neraka.”
Dan dari Khalid bin Mi’dan dari sebagian istri-istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, mengenai menyela-nyela jari-jemari Rasulullah 'alaihi wa sallam bersabda,
إذا توضأ فخلل بين أصابع يديك ورجليك

“Jika engkau berwudhu, maka sela-selalah jari jemari tangan dan kakimu.” [Shahih HR.At-Tirmidzi no. 39 dan selainnya].
Caranya adalah menyela-nyela jari-jemari tersebut dengan menggunakan jari kelingking tangan kiri dan dimulai dari bagian bawah jari-jemarinya.

Berdoa ketika membasuh anggota wudhu

Seperti perkataan sebagian orang ketika membasuh tangan kanannya: ”Allahumma A’thinii Kitaabii bi Yamiinii (Ya Allah berikanlah kepadaku catatan amalku pada hari kiamat dengan tangan kanan)”. Dan ketika membasuh wajahnya berkata: ”Allahumma Bayyidh Wajhii Yauma Tabyadhdhu Wujuh (Ya Allah putihkanlah (bersinar dan cerah) wajahku pada hari di mana wajah-wajah menjadi putih)” sampai akhir, mereka berdalil dengan hadits dari Anas radhiyallahu 'anhu, didalamnya disebutkan bahwa Rasulullah 'alaihi wa sallam bersabda, ”Wahai Anas mendekatlah kepadaku, aku akan mengajarimu batasan-batasan wudhu, maka aku mendekat kepada beliau. Maka ketika beliau mencuci tangannya beliau membaca,

بسم الله والحمد لله ولا حول ولا قوة إلا بالله

“Bismillah wal hamdulillah wala haula wala quwata illa billah.” Imam Nawawi r berkata, ”Ini adalah doa yang tidak ada asal-usulnya.”
Imam Ibnu Shalah rahimahullah berkata, ”Tidak shahih hadits dalam masalah ini.”

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, ”Tidak dinukil dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau mengucapkan sesuatu dalam wudhunya selain bismillah, dan setiap hadits tentang dzikir (bacaan-bacaan) ketika wudhu maka itu adalah dusta dan sesuatu yang mengada-ada yang tidak pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan juga beliau tidak pernah mengajarkannya kepada ummatnya. Dan tidak tsabit dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam selain bacaan bismillah di awal wudhu dan doa berikut ini di akhir wudhu,

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له .. وأشهد أن محمداً عبده ورسوله ..اللهم اجعلني من التوابين واجعلني من المتطهرين

Anggota-anggota Lajnah Daimah berkata, ”Tidak tsabit dari Nabi  'alaihi wa sallam bacaan-bacaan doa yang dibaca ketika wudhu, dan apa yang dibaca oleh orang-orang pada umumnya dari bacaan-bacaan ketika wudhu maka hal itu adalah bid’ah.”

Waswas dengan menambah jumlah cucian (mencuci anggota wudu) lebih dari tiga kali
Ini adalah waswas dari setan, karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah menambah cucian dalam wudhu lebih dari tiga kali, sebagaimana yang tsabit dalam Shohih Bukhari bahwa Nabi 'alaihi wa sallam berwudhu tiga kali-tiga kali. Maka yang wajib atas seorang muslim adalah membuang semua waswas dan keragu-raguan (yang muncul) setelah selesainya wudhu dan jangan dia menambah lebih dari tiga kali cucian untuk menolak waswas yang merupakan salah satu dari tipuan setan.

Keyakinan sebagian orang  bahwa  wudhu tidak sempurna kecuali dengan membasuh tiga kali-tiga kali
Keyakinan sebagian orang bahwa wudhu tidak sempurna kecuali jika dilakukan tiga kali-tiga kali, maksudnya membasuh masing-masing anggota wudhu sebanyak tiga kali. Ini adalah keyakinan yang salah. Imam Al Bukhari rahimahullah berkata di dalam kitabnya ‘Bab Wudhu Sekali-Sekali’ kemudian membawakan hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhu,

توضأ النبي صلى الله عليه وسلم مرة مرة

“Nabi 'alaihi wa sallam berwudhu sekali-sekali.” [HR. Bukhari no.157] Kemudian Imam Al Bukhari berkata lagi, ’Bab Wudhu Dua Kali-Dua Kali’, kemudian membawakan hadits dari ‘Abdullah bin Zaid radhiyallahu 'anhu,

أن النبي صلى الله عليه وسلم توضأ مرتين مرتين.

“Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berwudhu dua kali-dua kali.” [HR.Bukhari no.158] Beliau juga berkata, ’Bab Wudhu Tiga Kali-Tiga Kali’, kemudian beliau membawakan hadits ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu 'anhu,

كان يغسل الأعضد ثلاثا ثلاث

“Adalah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam membasuh anggota wudhunya tiga kali-tiga kali.” [HR.Bukhari no.159].
Maka hadits-hadits di atas menunjukkan bolehnya berwudhu dengan basuhan sekali-sekali, dua kali-dua kali, dan tiga kal-tiga kali.

Berlebihan dalam memakai air

Ini adalah terlarang berdasarkan keumuman firman Allah subhanahu wa ta'ala,

ولا تسرفوا إنه لا يحب المسرفين

“Dan janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. [QS. Al-An’am: 141 dan Al-A’raf: 31] Imam Al Bukhari rahimahullah meriwayatkan sebuah hadits dari Anas radhiyallahu 'anhu berkata,

كان النبي صلى الله عليه وسلم يغسل - أو كان يغتسل - بالصاع إلى خمسة أمداد ويتوضأ بالمد

“Dahulu Rasulullah ﷺ mandi dengan satu sha’ (empat mud) sampai lima mud, dan berwudhu dengan satu mud.” [HR.Bukhari no.201].  Satu mud sekitar dua genggam telapak tangan.

Imam Al Bukhari rahimahullah berkata di awal Kitab Wudhu dalam kitab Shahihnya, ”Para ulama memakruhkan (membenci) perbuatan boros dalam berwudhu dan melebihi perbuatan Nabi 'alaihi wa sallam .”
Dan termasuk sikap boros adalah membuka kran air besar-besar ketika berwudhu, membasuh anggota wudhu lebih dari tiga kali, dll.

Dan semakna dengan keumuman ini adalah hadits Sa’ad radhiyallahu 'anhu tatkala Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melewati beliau ketika beliau (Sa’ad) sedang berwudhu, maka beliau bersabda kepadanya,
“Janganlah kalian boros dalam (penggunaan) air”, maka beliau (Sa’ad) berkata, “Apakah dalam (masalah) air ada pemborosan?”, beliau bersabda, “Iya, walaupun kamu berada di sungai yang banyak airnya”. [HR. Ahmad]

Keyakinan tidak boleh mengeringkan anggota tubuh dengan handuk, sapu tangan, dan sejenisnya setelah bersuci

Pendapat yang benar adalah hukumnya boleh karena tidak ada hal yang melarangnya, kalaupun ada haditsnya seperti hadits Maemunah radhiyallahu 'anha yang membawakan handuk setelah mandi junub dan ditolak oleh Nabi 'alaihi wa sallam maka hadits tersebut masih mengandung banyak kemungkinan.

Bahkan dalam riwayat Aisyah radhiyallahu 'anha

كان لرسول الله حرقة ينشف بها بعد الوضوء

“Rasulullah ﷺ mempunyai handuk yang biasa dipakai untuk menyeka sesudah wudhu.” [HR.Tirmidzi no.53, dan beliau melemahkannya, tapi imam Al Aini menyebutkan bahwa An Nasai meriwayatkan dalam kitab Al Kuna dengan sanad shahih. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih al Jamius Shaghir no 4830]

Tidak berwudhu lagi setelah tertidur pulas

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

العين وكاء السه فمن نام فليتوضأ

“Mata itu pengikat dubur, maka barangsiapa yang tidur hendaknya ia berwudhu.” [Hadits hasan HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah] Sebagian orang tertidur di masjid, kemudian apabila iqamat dikumandangkan dia dibangunkan oleh orang di sebelahnya lalu langsung bangkit shalat tanpa berwudhu lagi. Orang yang seperti ini wajib baginya untuk berwudhu, karena dia lelap dalam tidurnya, dan diduga kuat tidurnya penyebab hadats. Adapun kalau dia sekedar mengantuk dan tidur ringan sehingga masih mengetahui siapa yang ada di sekitarnya, maka tidak wajib baginya untuk berwudhu lagi.

Memulai membasuh anggota wudhu dari bagian kiri terebih dahulu
Ini juga merupakan kesalahan yang sering terjadi, padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إذا لبستم وإذا توضأتم فابدأوا بأيامنكم

“Apabila kalian mengenakan pakaian dan apabila kalian berwudhu, maka mulailah dari bagian kanan anggota tubuh kalian.”  [Shahih HR. Abu Dawud dan selainnya] Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam  juga menyukai mendahulukan bagian kanan ketika memakai sandal, menyisir, bersuci, dan dalam semua urusannya.

Melakukan tayamum padahal ada air dan dia mampu menggunakannya
Ini adalah kesalahan yang sangat jelas, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
فَلَمۡ تَجِدُواْ مَآءٗ فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدٗا طَيِّبٗا ٤٣

“Lalu kalian tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah kalian dengan tanah yang suci.” [QS. An Nisaa’: 43]
Maka ayat ini secara jelas menunjukkan bahwa tayamum tidak diperbolehkan kalau air tersedia dan dia mampu menggunakannya.

Wallahu a’lam

Share: Share
Read More

FAHAMI AMALKAN SEBARKAN

sunnahposOktober 26, 2021 Tidak ada komentar

 Teruslah Beramal hingga Ajal Menjelang - Wajada

Pada Hari itu Manusia Akan Ingat, sebelum hari itu datang mari bertaubat, beramal shaleh dan manfaatkan waktu sebaik mungkin. Cukuplah kematian sebagai pengingat.
➖➖➖
Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. [An Nisa’:78].
.
"Pada hari mereka didorong ke neraka Jahannam dengan sekuat-kuatnya.(Dikatakan kepada mereka): "Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya".Maka apakah ini sihir? Ataukah kamu tidak melihat?Masukklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu; kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan" (QS.Ath-Thur:13-27)
.
Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.Dia mengatakan: "Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini".Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksa-Nya. (QS. Al-Fajr ayat 23-25)
➖➖➖
Barakallahu Fiik

👤 Ustadz Syafiq Riza Basalamah Hafidzahullah
#ingatmati

Share: Share
Read More

COBA NASEHATI ORANG YANG MELAKUKAN TAHLIL KEMATIAN, PASTI DILEMPAR SANDAL

sunnahposOktober 26, 2021 Tidak ada komentar

 Cara Mudah dengan Mengambil Jalan Pintas Bukanlah Jalan yang Benar Menuju  Sebuah Kesuksesan - Semua Halaman - Intisari

Ustadz Zainal Abidin Syamsudin dalam pembahasan buku "Aqidah yang lurus",

mengatakan, "menyadarkan pelaku amalan bid'ah itu jauh lebih sulit daripada pelaku maksiat, bahkan ulama besar sekelas Imam At Tsaury mengatakan, setan/iblis lebih mencintai pelaku amalan bid'ah daripada pelaku maksiat, karena mereka merasa dalam kebenaran. Ini sungguh benar, misal saja ada sekelompok lelaki sedang bermain judi, coba dekati dan tegur dengan lemah lembut, mas sudahlah jangan bermain judi seperti ini kasihan anak istri, pasti si penjudi akan membalas dengan suara pelan, iya mas sebenarnya saya juga gak mau main judi terus namun kalau gak ada main kepala saya pusing karena suntuk.

Sebaliknya coba datangi orang yang sedang mengamalkan tahlil kematian, bicara dengan lemah lembut, mas sudahlah jangan mengamalkan amalan ini, ini amalan tidak ada contohnya dari Nabi dan para sahabat, pastilah akan dibalas dengan kata-kata kasar, mungkin akan ada perkataan, mukamu juga bid'ah karena tidak ada dijaman Nabi, atau juga mungkin akan dilempar sandal karena mereka merasa mengamalkan sesuatu yang benar namun mereka mendapat teguran, tentu mereka sulit menerimanya.

Jika demikian kita wajib sabar dan doakan saja.
Imam Syafi'i adalah ulama besar, selalu meraih kemenangan dalam debat ilmu dengan siapapun juga dijamannya, namun beliau kalah berdebat dengan orang bodoh."

Seorang tabiin bernama Sufyan ats Tsauri mengatakan :

قال وسمعت يحيى بن يمان يقول سمعت سفيان يقول : البدعة أحب إلى إبليس من المعصية المعصية يتاب منها والبدعة لا يتاب منها

Ali bin Ja’d mengatakan bahwa dia mendengar Yahya bin Yaman berkata bahwa dia mendengar Sufyan (ats Tsauri) berkata, “Bid’ah itu lebih disukai Iblis dibandingkan dengan maksiat biasa. Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertaubat. Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertaubat” (Diriwayatkan oleh Ibnu Ja’d dalam Musnadnya no 1809 dan Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis hal 22).

Faktor terpenting yang mendorong seseorang untuk bertaubat adalah merasa berbuat salah dan merasa berdosa. Perasaan ini banyak dimiliki oleh pelaku kemaksiatan tapi tidak ada dalam hati orang yang gemar dengan bid’ah. Oleh karena itu, bagaimana mungkin seorang pelaku bid’ah bertaubat ketika dia tidak merasa salah bahkan dia merasa mendapat pahala dan mendekatkan diri kepada Allah dengan bid’ah yang dia lakukan.
Mungkin berdasarkan perkataan Sufyan ats Tsauri ini ada orang yang berkesimpulan bahwa orang yang melakukan bid’ah semisal tahlilan itu lebih rendah derajatnya dibandingkan yang melakukan maksiat semisal melacurkan diri.

Muhammad bin Husain al Jizani ketika menjelaskan poin-poin perbedaan antara maksiat dan bid’ah mengatakan, “Oleh karena itu maksiat memiliki kekhasan berupa ada perasaan menginginkan bertaubat dalam diri pelaku maksiat. Ini berbeda dengan pelaku bid’ah.

Pelaku bid’ah hanya semakin mantap dengan terus menerus melakukan kebid’ahan karena dia beranggapan bahwa amalnya itu mendekatkan dirinya kepada Allah, terlebih para pemimpin kebid’ahan besar. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah,
أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآَهُ حَسَنًا
“Maka Apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu Dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)?” (Qs. Fathir:8)
Sufyan ats Tsauri mengatakan, “Bid’ah itu lebih disukai Iblis dibandingkan dengan maksiat biasa. Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertaubat. Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertaubat”.

Referensi , " Mengapa dosa bid'ah lebih besar dari maksiat", di konsultasiSyariah.c
Share: Share
Read More

CARA SUJUD YG BENAR SESUAI DENGAN SUNNAH

sunnahposOktober 26, 2021 Tidak ada komentar

Ketika Sujud, Telapak Kaki Dirapatkan atau Direnggangkan? - TransBisnis

Secara umum, tata cara sujud yang benar telah disebutkan dalam hadis berikut:

Nabi ﷺ bersabda,
_“Aku diperintahkan untuk bersujud dengan bertumpu pada tujuh anggota badan: *Dahi dan beliau berisyarat dengan menyentuhkan tangan ke hidung beliau, dua telapak tangan, dua lutut, dan ujung-ujung dua kaki.”*_
_(HR. Al Bukhari dan Muslim)_

Berdasarkan hadits, tujuh anggota sujud dapat kita rinci:
a. Dahi dan mencakup hidung
b. Dua telapak tangan
c. Dua lutut
d. Dua ujung-ujung kaki.

Adapun bentuk sujud yang sempurna secara rinci dijelaskan sebagai berikut:
*1. Menempelkan Dahi dan Hidung di Lantai*
_“Nabi ﷺ *menempelkan* dahi dan hidungnya ke lantai…”._
_(HR. Abu Daud, Turmudzi)_

Nabi ﷺ bersabda,
_*“Tidak ada shalat* bagi orang yang tidak menempelkan hidungnya ke tanah, sebagaimana dia menempelkan dahinya ke tanah.”_
_(HR. Ad Daruqutni dan At Thabrani)_

Hadis ini menunjukkan, menempelkan hidung ketika sujud hukumnya *wajib.*

*2. Meletakkan Kedua Tangan di Lantai dan Sejajar dengan Pundak atau Telinga*
_“Nabi ﷺ meletakkan kedua tangannya (ketika sujud) *sejajar dengan pundaknya.”*_
_(HR. Abu Daud, Turmudzi)_

_Dan terkadang “Beliau  meletakkan tangannya *sejajar dengan telinga.”*_
_(HR. Abu Daud dan An Nasa’i dengan sanad shahih)_

*3. Merapatkan Jari-jari Tangan dan Menghadapkannya ke Arah Kiblat*
_“Nabi ﷺ *merapatkan jari-jari* tangan ketika sujud.”_
_(HR. Ibn Khuzaimah dan Al Baihaqi)_

_“Beliau menghadapkan jari-jarinya ke arah kiblat.”_
_(HR. Al Baihaqi dengan sanad shahih)_

Ibn Umar رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ mengatakan,
_“Nabi ﷺ suka menghadapkan anggota tubuhnya ke arah kiblat ketika shalat. *Sampai beliau menghadapkan jari jempolnya ke arah kiblat.”*_
_(HR. Ibn Sa’d)_

*4. Mengangkat Kedua Lengan dan Membentangkan Keduanya Sehingga Jauh dari Lambung.*
_“Beliau tidak meletakkan lengannya di lantai.”_
_(HR. Al Bukhari dan Abu Daud)_

_“Beliau mengangkat kedua lengannya dan melebarkannya sehingga *jauh dari lambungnya,* sampai kelihatan ketiak beliau yang putih dari belakang.”_
_(HR. Al Bukhari dan Muslim)_

_“Beliau melebarkan lengannya, sehingga anak kambing bisa lewat di bawah lengan beliau.”_
_(HR. Muslim dan Abu ‘Awanah)_

Nabi ﷺ sangat bersungguh-sungguh dalam merenggangkan kedua lengannya ketika sujud, sampai ada sebagian sahabat yang mengatakan, _“Sungguh kami merasa kasihan dengan Nabi ﷺ karena beliau sangat keras ketika membentangkan kedua lengannya pada saat sujud.”_
_(HR. Abu Daud dan Ibn Majah, hasan)_

Catatan:
Membentangkan kedua lengan ketika sujud dianjurkan jika *_tidak mengganggu orang lain yang berada di sampingnya._* Jika mengganggu orang lain, misalnya ketika shalat berjamaah, maka tidak boleh membentangkan tangan, *_namun tetap harus mengangkat siku agar tidak menempel dengan lantai._* Karena menempelkan siku ketika sujud termasuk tata cara sujud yang dilarang.

*5. Menempelkan Kedua Lutut di Lantai.*
Nabi ﷺ bersabda,
_“Kami diperintahkan untuk bersujud dengan bertumpu pada tujuh anggota badan: salah satunya *bertumpu pada kedua lutut.”*_
_(HR. Al Bukhari dan Muslim)_

Catatan:
Kedua lutut dirapatkan ataukah direnggangkan?

Tidak terdapat keterangan tentang masalah ini. Oleh karena itu, posisi lutut ketika sujud sebaiknya di sesuaikan dengan kondisi yang paling nyaman menurut orang yang shalat. Jika dia merasa nyaman dengan merenggangkan lutut, maka sebaiknya direnggangkan dan sebaliknya, jika dia merasa nyaman dengan kondisi dirapatkan kedua lututnya, maka sebaiknya dirapatkan.

Syaikh Ibn Al Utsaimin mengatakan,
_*“Hukum asal (gerakan shalat) adalah meletakkan anggota badan sesuai dengan kondisi asli tubuh sampai ada dalil yang menyelisihinya.”*_
(Asy Syarhul Mumthi’, 1:574)

*6. Bersikap I’tidal Ketika Sujud*
Syaikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin menjelaskan bahwa yang dimaksud
_“i’tidal ketika sujud” adalah *merenggangkan antara betis dengan paha, dan meregangkan antara perut dengan paha*, masing-masing kurang lebih 90 derajat. Namun tidak boleh berlebihan ketika meregangkan betis dengan paha, sehingga lebih dari 90 derajat._
_(Asy Syarhul Mumthi’, 1:579)_

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Nabi ﷺ  bersabda,
_“Bersikaplah I’tidal ketika sujud.”_
_(HR. Al Bukhari dan Muslim)_

Dari Abu Humaid رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ beliau menceritakan tata cara shalatnya Nabi ﷺ:
_"…Ketika beliau sujud, beliau renggangkan kedua pahanya, *tanpa sedikit pun menyentuhkan paha dengan perut beliau."*_
_(HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh As Syaukani dalam Nailul Authar)_

As Syaukani mengatakan: _Hadis ini dalil dianjurkannya *meregangkan kedua paha ketika sujud dan mengangkat perut sehingga tidak menyentuh paha.* Dan tidak ada perselisihan ulama tentang anjuran ini._
_(Nailul Authar, 2:286)_

*7. Meletakkan Ujung-ujung Kaki dan Ditekuk Sehingga Ujung-ujungnya Menghadap Kiblat*
_“Nabi ﷺ meletakkan dua lututnya dan ujung kedua kakinya di tanah.”_
_(HR. Al Baihaqi dengan sanad shahih, dinyatakan shahih oleh Al Hakim)_

_“Beliau menegakkan kedua telapak kakinya.”_
_(HR. Al Baihaqi dengan sanad shahih) Dan “Beliau memerintahkan (umatnya) untuk melakukannya.”_
_(HR. At Turmudzi, Al Hakim)_

_“Beliau *menghadapkan* punggung kakinya dan ujung-ujung jari kaki ke arah kiblat.”_
_(HR. Al Bukhari dan Abu Daud)_

*8. Merapatkan Tumit*
_“Beliau *merapatkan* kedua tumitnya (ketika sujud).”_
_(HR. At-Thahawi dan Ibn Khuzaimah)_

Melaksanakan Gerakan Sujud Sebagaimana di Atas dengan Sungguh-sungguh
Karena demikianlah sunnah yang diajarkan Nabi ﷺ. Agar shalat kita bisa sempurna maka sunnah yang mulia ini harus kita jaga.

Semoga bermanfaat.
إِنْ شَاءَ اللّٰهُ

#UstadzAmmiNurBaits
@konsultasisyariah

Share: Share
Read More
← Postingan Lebih Baru Beranda

Radio Sunnah

Kajian Net

KAJIAN ISLAM
Ceramah Islam MP3

Media Sunnah

  • Live Streaming Rodja TV
  • Radio online
  • Tafsir Online
  • Tafsir Ibnu Katsir
  • almanhaj
  • Kajian Net
  • Muslim
  • Islam Download
  • Radiorodja
  • Radiosunnah
  • Rumaysho

LInk Utama

  • Quran Recitation
  • Muslim or id
  • Al Manhaj
  • Radio Rodja
  • Text Editor

Cari di Blog ini

Popular Post

  • WANITA, UJIAN TERBESAR BAGI LAKI-LAKI
    Termasuk dari rahmat-Nya, Allah  menciptakan hamparan dunia begitu indah lengkap dengan keragaman muatannya. Menganugerahkan kepada manusi...
  • PERHATIKAN DENGAN SIAPA ENGKAU BERTEMAN
    ~~~~~~~ Dari Abu Musa Al-Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ bersabda: مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّ...

Radio Islam Indonesia

LISTEN QURAN

Listen to Quran
  • Popular
  • Tags
  • Archives

Popular Posts

  • COBA NASEHATI ORANG YANG MELAKUKAN TAHLIL KEMATIAN, PASTI DILEMPAR SANDAL
      Ustadz Zainal Abidin Syamsudin dalam pembahasan buku "Aqidah yang lurus", mengatakan, "menyadarkan pelaku amalan bid'...
  • 12 GOLONGAN MANUSIA YANG DI DOAKAN MALAIKAT
      1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya...
  • SANG PEMBEDA
    Tidaklah engkau dikatakan mencintai Nabi Muhammad ﷺ sebelum engkau mencintai SUNNAH2 dan Ajaran yg dibawa oleh Beliau ﷺ karena Allah سبحانه ...

Blog Archive

Blog Archive

  • ▼ 2026 (3)
    • ▼ Februari (3)
      • Hukum Menemui Orang Yang Diklaim Dapat Mengobati P...
      • TERNYATA ARTI "RAMADHAN" ADALAH "MEMBAKAR". APA YA...
      • MEMBACA AL-QURAN DI KUBURAN
  • ► 2025 (30)
    • ► Desember (3)
    • ► November (6)
    • ► September (3)
    • ► Agustus (11)
    • ► Mei (3)
    • ► Maret (2)
    • ► Januari (2)
  • ► 2024 (7)
    • ► Januari (7)
  • ► 2023 (7)
    • ► November (1)
    • ► Oktober (6)
  • ► 2021 (13)
    • ► November (7)
    • ► Oktober (6)

Recent Posts

Pages

  • Contact Us

    Nama

    Email *

    Pesan *

Copyright © ABU AISH | Powered by Blogger
Design by FlexiThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Blogger Templates20 | Security License Ottawa | Security License Brampton