Pertanyaan:
Ada seorang wanita, dia sudah membersihkan bekas haid yang ada di celananya, tapi gak bersih2. masih ada aja bekas darahnya, bahkan sampai kering. Nah.. bolehkh celana ini dipake ibadah? Apakah bekas darah itu najis?
Dari: Ana – Jateng
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Darah haid hukumnya najis, karena itu wajib dicuci.
Jika sudah dicuci, bahkan dikucek, namun masih ada bekasnya, tidak masalah digunakan untuk shalat atau ibadah lainnya yang mempersyaratkan harus suci dari najis.
Kesimpulan ini berdasarkan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang seorang sahabat wanita yang bernama Khoulah bintu Yasar datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya,
“Wahai Rasulullah, saya hanya memiliki satu baju, dan ketika haid, saya mengenakan baju ini.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan,
فإذا طهرت فاغسلي موضع الدم ثم صلي فيه
“Jika kamu telah suci, cucilah bekas yang terkena darah, kemudian gunakan baju itu untuk shalat.”
Khoulah bertanya lagi: “Ya Rasulullah, bagaimana jika bekasnya tidak hilang?”
Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
يكفيك الماء ولا يضرك أثره
“Cukup kamu cuci dengan air, dan tidak usah pedulikan bekasnya.”
(📚HR. Abu Daud dan Baihaqi; disahihkan Albani).
Hukum semacam ini sejalan dengan kaidah umum dalam fikih,
المشقة تجلب التيسير
“Kesulitan membawa kemudahan”
Dan ini bagian dari kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Allah memberikan banyak keringanan dalam kesulitan yang tidak mungkin dihindari oleh para hamba-Nya. Allah berfirman,
وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
Dia sama sekali tidak menjadikan adanya kesempitan untuk kamu dalam agama
(📖QS. Al-Hajj: 78)
Allahu a’lam
Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baitss
(Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)
Bekas Darah haid yang Menempel di Celana
Kenapa mendakwahi sesama orang Islam jauh lebih sulit?
Beberapa wakru yang lalu diberi kabar salah satu Ustadz pengajar di kelas bacaan Al-Quran yang kami adakan disalah satu Lembaga Pemasyarakatan, tentang adanya jamaah yang baru masuk Islam, atau muallaf, kata beliau mudah saja menjelaskan kepada dia tentang konsekuensi syahadat, juga tentang Tauhid dan Syirik, demikian juga dengan Sunnah dan Bid'ah. Kata beliau jika materi yang sama disampaikan kepada sesama orang Islam mungkin akan ada penolakan, dan yang jelas jauh lebih sulit serta perlu proses panjang dalam menjelaskannya hingga paham.
Jadi teringat apa yang disampaikan oleh Ustadz Armen Halim Naro Lc Rahimahullah dalam salah satu kejian beliau, beliau mengatakan, "MengIslamkan orang Islam jauh lebih sulit daripada mengIslamkan orang kafir, tau penyebabnya?, karena orang Islam kebanyakan dijaman ini tidak mengetahui bagaimana ajaran Islam yang benar seperti yang diajarkan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya, yang diketahui orang Islam kebanyakan adalah Islam yang telah sampai kepada mereka dijaman ini yang sudah bercampur dengan paham-paham lain diluar Islam. "
Sangat benar perkataan beliau, coba saja kita nasehati seseorang agar meninggalkan tahlil kematian, pasti kita dilempar sandal, dikatai wahabi atau yang terjadi kemudian lebih buruk lagi, karena orang yang mengamalkan tahlil kematian menyakini amalannya diatas kebenaran, padahal hal demikian tidak pernah diamalkan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, para sahabatnya bahkan para imam mahzab sekalipun.
Atau ketika nampak ada wanita dikepala pakai hijab tapi kebawah pakai pakaian seksi, atau pakai celana jeans yang ketat sehingga membentuk lekukan tubuhnya, lalu kita nasehati, "mbak kalau berhijab yang benar yaa", langsung saja pasti kita dituduh macam-macam, entah sok usil atau sok suci atau berdalih yang penting hatinya dihjiabi. Itu mungkin terjadi karena dilingkungan sejak kecil yang namanya hijab adalah yang penting nutup kepala, padahal hijab sudah jelas syariatnya sejak jaman Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dan sudah dirumuskan banyak ulama dan bukan seperti itu amalannya.
Atau ketika seseorang memakai jimat dan semacamnya kemudian kita tegur, "mas jangan pakai jimat itu masuk amalan syirik mas, bahaya", pasti kita dituduh macam-macam, dan membela amalannya itu sebagai hanya wasilah (perantara), padahal dalam beberapa hadist Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan yang demikian masuk amalan kesyirikan.
Dan banyak mungkin terjadi hal demikian, banyak terjadi penolakan ketika kita ingin meluruskan kebengkokan dalam agama yang dilakukan seseorang, karena sudah lama mereka memahami yang benar adalah demikian. Waalahua'lam.
Semoga Allah Ta'ala selalu melindungi kemurnian agama ini, sehingga kita tau mana Islam yang sebenarnya seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya.
Suatu saat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkisah,
خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هذه سبل و عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu,’ kemudian beliau membaca,
{وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}
‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya’”
([Al An’am: 153]
(📚Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad dan yang lainnya)
Oleh Siswo Kusyudhanto
Sumber referensi "Jalan Kebenaran hanya satu", karya Ustadz Sa'id Abu Ukasyah di muslim. Or. Id
AQIDAH AHLUS SUNNAH TENTANG ALAM KUBUR
Para ulama Salaf, Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Ahlul Hadits wal Atsar, mereka semua meyakini masalah-masalah yang berhubungan dengan alam kubur dan keadaan para penghuninya sampai kepada masalah kebangkitan seluruh manusia dari alam kubur, sesuai dengan yang terungkap di dalam ayat-ayat al-Qur-an, hadits-hadits shahih, dan perkataan-perkataan para Salaf, bahwasanya:
1. Iman Kepada Siksa dan Nikmat Kubur Merupakan Keimanan Kepada Perkara yang Ghaib
Maka mereka mengimani segala hal yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hal tersebut adalah shahih, maka semuanya wajib dibenarkan, baik dapat disaksikan dengan panca indera kita atau tidak, difahami dengan akal kita atau tidak. Di antara keimanan kepada perkara yang ghaib adalah beriman kepada hari Akhir dan beriman kepada siksa kubur, nikmatnya, fitnahnya dan keadaan-keadaannya.[1]
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ
“Dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur-an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” [Al-Baqarah/2: 4]
2. Tiga Alam dan Masing-masing Hukum untuknya
Mereka semua mengimani alam yang tiga, yaitu dunia, kubur, dan akhirat. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan setiap alam tersebut berbagai hukum yang dikhususkan kepada masing-masing alam tersebut, Dia menyusun manusia dari badan dan jiwa, Dia-lah Allah Yang menjadikan hukum dunia kepada badan sedangkan ruh mengikutinya, dan menjadikan hukum alam kubur kepada ruh sedangkan jasad mengikutinya. Dan apabila telah datang hari dikumpulkannya jasad-jasad, dan manusia berdiri (bangkit) dari kubur-kubur mereka, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan hukum, nikmat dan siksa di dalamnya menimpa ruh juga badan secara bersamaan.[2].
***
MUKJIZAT BAHTERA NABI NUH
Bahtera Nabi Nuh adalah mukjizat Ilahi dalam segala ukuran. Panjangnya sekitar 300 hasta dan lebarnya sekitar 20 hasta, dengan luas 6000 hasta, setara kurang lebih 3000 meter persegi. Bahtera itu terdiri dari tiga lantai, dengan tinggi 50 hasta, sebanding dengan bangunan 8 lantai. Lantai terakhirnya ditutup dengan kayu.
•••• {Mukjizat Pertama}
Nuh عليه السلام membuat bahtera dengan wahyu dari Jibril عليه السلام. Setiap papan kayu yang ia pasang dan setiap paku yang ia tancapkan, semuanya dengan bimbingan wahyu, karena ia tidak mengetahui apa-apa tentang pembuatan kapal. Para malaikat membantunya dalam proses itu.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ﴾
“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan wahyu Kami; dan janganlah engkau bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” (QS. Hud: 37)
Bahtera itu terbuat dari kayu yang disatukan dengan paku.
Allah berfirman: ﴿وَحَمَلْنَاهُ عَلَىٰ ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ﴾
“Dan Kami mengangkutnya (Nuh) di atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku.” (QS. Al-Qamar: 13)
(dusur = paku).
Ia membuat kapal itu di padang pasir diatas gunung/bukit, bukan di tepi laut atau sungai seperti biasanya. Kaumnya pun mengejeknya, karena mereka tidak paham apa yang dilakukan Nuh.
Allah berfirman:
﴿وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَأٌ مِّن قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ قَالَ إِن تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ \* فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَن يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُّقِيمٌ﴾
“Dan Nuh membuat bahtera. Setiap kali pemimpin kaumnya lewat kepadanya, mereka mengejeknya. Nuh berkata: ‘Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) akan mengejekmu sebagaimana kamu mengejek (kami). Maka kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya, dan yang akan didatangi azab yang kekal.’” (QS. Hud: 38–39)
•••• {Mukjizat Kedua}
Allah memerintahkannya menjalankan bahtera ketika tanūr (tungku) memancarkan air, sebagai tanda berangkatnya perjalanan. Saat itu ia diperintah membawa orang-orang beriman dan dari setiap jenis makhluk berpasangan. Adapun yang kafir akan binasa.
Allah berfirman:
“Hingga apabila perintah Kami datang dan tanūr telah memancarkan air, Kami berfirman: ‘Muatkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap jenis (makhluk hidup) dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ditetapkan atasnya hukuman, dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.’ Dan tidak beriman bersama Nuh itu kecuali sedikit.” (QS. Hud: 40)
Makna tanūr yang kuat adalah tungku api, sehingga tanda keluarnya air adalah ketika tungku di rumah memancarkan air.
•••• {Mukjizat Ketiga}
Bahtera itu mampu bertahan dari banjir besar dengan ombak setinggi gunung.
Allah berfirman: ﴿وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ﴾
“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung.” (QS. Hud: 42)
Ia berlayar di tengah air yang sangat dahsyat, deras dari bumi dan hujan lebat dari langit, hingga akhirnya berlabuh di Gunung Judi setelah 40 hari (ada yang mengatakan 3 bulan atau lebih).
Allah berfirman:
“Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah deras. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan.” (QS. Al-Qamar: 11–12)
Air sebesar itu mustahil bisa ditahan kapal biasa, tapi Allah menjaga bahtera Nuh.
Allah berfirman: ﴿بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا﴾
dan: ﴿تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا جَزَاءً لِمَن كَانَ كُفِرَ﴾
“Bahtera itu berlayar dengan pengawasan Kami, sebagai balasan bagi orang yang telah didustakan.” (QS. Al-Qamar: 14)
•••• {Mukjizat Keempat}
Bahtera itu melaju deras tanpa layar, dayung, kemudi, atau mesin. Semuanya digerakkan langsung oleh Allah, sebagaimana ayat diatas.
•••• {Mukjizat Kelima}
Bahtera itu membawa semua orang beriman serta sepasang dari setiap makhluk hidup.
Allah berfirman: ﴿وَاحْمِلْ فِيهَا مِن كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ﴾
“Dan muatkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari setiap jenis makhluk.” (QS. Hud: 40)
Meski berbeda lingkungan, sifat, makanan, bahkan ada yang saling bermusuhan, mereka semua hidup berdampingan dengan damai hingga bahtera berlabuh di Gunung Judi (sekarang di perbatasan Turki, Irak, dan Suriah).
Allah berfirman: ﴿وَنَجَّيْنَاهُ وَمَن مَّعَهُ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ﴾
“Dan Kami selamatkan dia (Nuh) dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera yang penuh muatan.” (QS. Asy-Syu‘ara: 119).
Wa Allahu A,'lam
KEMATIAN INDAH SANG PEMBELA AGAMA ALLAH
Kisah nyata seorang Sahabat Nabi yang kematiannya sanggup menggetarkan langit dan arwahnya dijemput 70.000 malaikat..
Satu-satunya sahabat yang meninggal di pangkuan Nabi shollallahu 'alayhi wassalaam, dengan gelar syahid dan dituntun langsung oleh Nabi saat sakaratul maut, dialah Sa'ad bin Mu'adz radhiyallahu 'anhu.
Rasulullah meletakkan kepala Sa’ad di pangkuannya, untuk meringankan sakitnya sakaratul maut. Sa’ad benar-benar bahagia karena di hari terakhirnya, yang dilihatnya adalah wajah Rasulullah yang mulia. Ia pun mengucap salam dan syahadat, “Assalamu’alaika, ya Rasulullah. Ketahuilah bahwa saya mengakui bahwa Anda adalah Rasulullah.”
Rasulullah memandang wajah Sa’ad lalu berkata, “Kebahagiaan bagimu, wahai Abu Amr.” Sa'ad adalah salah satu sahabat yang dijamin masuk surga.
Sa’ad bin Muadz meninggal sebulan setelah peristiwa perang Khandaq di tahun ke 5 Hijriah, akibat luka yang dideritanya akibat terkena anak panah di perang Khandaq tersebut. Dia Syahid di pangkuan Rasulullah.
Sangat indah sekali kematian Sa’ad. Syahid di pangkuan orang yang paling dicintainya, Nabi Muhammad SAW, dan mendapat kesaksian langsung dari beliau. Bahkan kematiannya membuat Arsy Allah berguncang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallaam pun bersabda,
اهتز عرش الرحمن لموت سعد بن معاذ
“Arsy Allah Ar-Rahman bergetar karena wafatnya Sa'ad bin Muadz.” (HR. Bukhari dan Muslim)
###
Siapakah Sa'ad bin Mu'adz?
Dia adalah seorang kepala suku Aus, suku terbesar di Madinah. Beliau masuk Islam melalui dakwah yang dilakukan Mushab bin Umair ra, sahabat yang diutus Nabi ke Madinah, satu tahun menjelang hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah. Setelah masuk Islam, Sa’ad mengumpulkan kaumnya. Di hadapan mereka, dia mengucapkan kata-kata yang sangat bersejarah, “Wahai Bani Abdul Asyhal, apa pendapat kalian tentang diriku?”
Kaumnya menjawab, “Engkau adalah pemimpin kami, kami ikuti pendapatmu dan kamu orang yang paling kami percaya.”
Kemudian Sa’ad melanjutkan, “Wahai kaumku, baik laki-laki maupun wanita, mulai hari ini adalah haram bagi kalian berbicara denganku, sebelum kalian bersyahadat, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Selanjutnya, pada hari itu seluruh kaumnya (Bani Abdul Ayshal dari suku Aus) itu masuk Islam sebelum datangnya petang hari.
Kemudian dengan kekuatan militernya yang disegani, beliaulah yang menjadi benteng utama dakwah Nabi SAW di Madinah di setiap kesempatan. Di sinilah peran penting Sa’ad. Dia dan kaumnya adalah pengawal dan pendukung utama setiap kebijakan Nabi Muhammad SAW dalam menegakkan syariat Allah. Sa’ad dan kaumnya dari Suku Aus selalu tampil terdepan membela Nabi.
###
Betapa indahnya kematian Sa'ad bin Mu'adz, sang pembela agama Allah. Allah muliakan beliau dikarenakan seluruh kekuatan yang dimilikinya dikerahkan untuk tegaknya kalimat-kalimat Allah di muka bumi.
Dalam riwayat disebutkan bahwa ketika jenazahnya berada di hadapan manusia, orang-orang munafikin mengatakan: “Sungguh ringan sekali jenazahnya”. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallaam berkata: “Sesungguhnya para malaikat telah membawa jenazahnya. 70.000 malaikat turun ke bumi untuk menyaksikan dan bertakziah atas wafatnya Sa'ad".
Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Aku adalah salah seorang yang menggali makam untuk Sa'ad, dan setiap kami menggali satu lapisan tanah, tercium oleh kami wangi kesturi”.
Itulah Sa'ad bin Muadz, tokoh sahabat Anshar yang memeluk Islam saat beliau berusia 31 tahun dan wafat saat berusia 37 tahun. Dalam 6 tahun masa keislamannya, wafatnya telah membuat Arsy Allah Ta’ala bergetar.
Untuk siapapun anda yang hari ini punya kekuatan, tidakkah kalian menginginkan sebuah kematian yang indah? Kematian yang disambut oleh 70.000 malaikat.., kematian yang karenanya langit pun bergetar menghantarkan arwahnya.. Tidakkah kalian menginginkan dengan kekuatan yang kalian miliki itu Allah memuliakan kalian? Gunakanlah kekuatan yang kalian miliki itu untuk menolong agama Allah. Untuk tegaknya kalimat-kalimat Allah di muka bumi.
Sebaliknya, kehinaanlah bagi siapa saja yang menggunakan kekuatannya justru untuk menegakkan kedzaliman, dan untuk menghadang dakwah bagi tegaknya Syariat Allah secara kaffah di muka bumi.
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ تَـنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَا مَكُمْ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."
(QS. Muhammad: Ayat 7)
TUKANG BATU YANG TANGAN NYA DI CIUM RASULULLAH ﷺ. ♦️
Saat mendekati kota madinah, di salah satu sudut jalan, Rasulullah ﷺ berjumpa dengan seorang tukang batu.
Ketika itu Rasulullah ﷺ melihat tangan buruh tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.
Rasulullah pun bertanya,
"Kenapa tanganmu kasar sekali..?
Si tukang batu menjawab,
"Ya Rasulullah, pekerja'an saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual kepasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi Nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar.
Rasulullah ﷺ adalah manusia paling Mulia, tetapi begitu melihat tangan si tukang batu yang kasar karena mencari Nafkah yang halal, Rasulullah ﷺ pun menggenggam tangan itu, dan mencium seraya bersabda,
"Inilah tangan yang tidak akan pernah di sentuh oleh api Neraka selama-lamanya."
Rasulullah ﷺ tidak pernah mencium tangan para pemimpin Quraisy, tangan para pemimpin kabilah, raja atau siapa pun.
Sejarah mencatat hanya Putrinya fatimah Az Zahra dan tukang batu, itulah tangannya yang pernah di cium Rasulullah ﷺ.
Padahal tangan tukang batu yang di cium oleh Rasulullah ﷺ justru tangan yang telapaknya melepuh dan kasar/kapalan.
Karena membelah batu dan kerja keras.
Suatu ketika seorang laki-laki melintas di hadapan Rasulullah ﷺ.
Orang itu dikenal sebagai pekerja yang ta'at dan giat juga tangkas.
Parasahabat kemudian berkata,,
"Wahai Rasulullah, andai bekerja seperti di lakukan orang itu dapat di golongkan jihat di jalan Allah (fi sabilillah), maka alangkah baik nya."
Mendengar itu Rasulullah ﷺ pun menjawab,
"Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka itu fi sabilillah."
(HR. Thabrani).
Maka dalam setiap langkahmu bekerja atau berusaha, niatkan untuk mencari rejeki yang halal, untuk memberi nafkah kepada keluarga.
Maka sa'at itu engkau sedang fi sabilillah (di jalan Allah).
Masya Allah
" Allahuma sholli ala Muhammad
Wa ala Ali Muhammad "
Semoga bermanfa'at🙏🙏🙏
Sumber: FB tsaida tsaida
Kisah ini masyhur dari al-Imam al-Hasan al-Bashrī
Diriwayatkan bahwa ada tiga orang datang mengadu kepadanya dengan keluhan yang berbeda:
1. Orang pertama datang mengeluh tentang kemiskinan.
→ Al-Hasan berkata: "Mintalah ampun (istighfarlah) kepada Allah."
2. Orang kedua datang mengeluh karena tidak punya anak (mandul).
→ Al-Hasan berkata: "Mintalah ampun (istighfarlah) kepada Allah."
3. Orang ketiga datang mengadu karena kekeringan tanah (butuh hujan).
→ Al-Hasan berkata: "Mintalah ampun (istighfarlah) kepada Allah."
Murid-muridnya pun bertanya: "Kenapa engkau selalu memberikan jawaban yang sama, yaitu istighfar, padahal masalah mereka berbeda-beda?"
Maka Hasan al-Bashri menjawab dengan membaca firman Allah dalam Surah Nūḥ ayat 10–12:
> فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا
وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا
Artinya:
"Maka aku (Nuh) berkata: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan lebat untukmu, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan untukmu kebun-kebun dan sungai-sungai." (QS. Nūḥ: 10–12).
🔹 Dari kisah ini kita belajar bahwa istighfar bukan hanya menghapus dosa, tapi juga menjadi sebab turunnya rezeki, keturunan, dan hujan.












