Diriwayatkan bahwa ada tiga orang datang mengadu kepadanya dengan keluhan yang berbeda:
1. Orang pertama datang mengeluh tentang kemiskinan.
→ Al-Hasan berkata: "Mintalah ampun (istighfarlah) kepada Allah."
2. Orang kedua datang mengeluh karena tidak punya anak (mandul).
→ Al-Hasan berkata: "Mintalah ampun (istighfarlah) kepada Allah."
3. Orang ketiga datang mengadu karena kekeringan tanah (butuh hujan).
→ Al-Hasan berkata: "Mintalah ampun (istighfarlah) kepada Allah."
Murid-muridnya pun bertanya: "Kenapa engkau selalu memberikan jawaban yang sama, yaitu istighfar, padahal masalah mereka berbeda-beda?"
Maka Hasan al-Bashri menjawab dengan membaca firman Allah dalam Surah Nūḥ ayat 10–12:
> فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا
وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا
Artinya:
"Maka aku (Nuh) berkata: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan lebat untukmu, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan untukmu kebun-kebun dan sungai-sungai." (QS. Nūḥ: 10–12).
🔹 Dari kisah ini kita belajar bahwa istighfar bukan hanya menghapus dosa, tapi juga menjadi sebab turunnya rezeki, keturunan, dan hujan.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar