KEMATIAN INDAH SANG PEMBELA AGAMA ALLAH

Mengenal Gurun Arab atau Arabian Desert yang Ada di Arab Saudi

Kisah nyata seorang Sahabat Nabi yang kematiannya sanggup menggetarkan langit dan arwahnya dijemput 70.000 malaikat..

Satu-satunya sahabat  yang meninggal di pangkuan Nabi shollallahu 'alayhi wassalaam, dengan gelar syahid dan dituntun langsung oleh Nabi saat sakaratul maut, dialah Sa'ad bin Mu'adz radhiyallahu 'anhu.

Rasulullah  meletakkan kepala Sa’ad di pangkuannya, untuk meringankan sakitnya sakaratul maut. Sa’ad benar-benar bahagia karena di hari terakhirnya, yang dilihatnya adalah wajah Rasulullah yang mulia. Ia pun mengucap salam dan syahadat, “Assalamu’alaika, ya Rasulullah. Ketahuilah bahwa saya mengakui bahwa Anda adalah Rasulullah.”

Rasulullah memandang wajah Sa’ad lalu berkata, “Kebahagiaan bagimu, wahai Abu Amr.” Sa'ad adalah salah satu sahabat yang dijamin masuk surga.

Sa’ad bin Muadz meninggal sebulan setelah peristiwa perang Khandaq di tahun ke 5 Hijriah, akibat luka yang dideritanya akibat terkena anak panah di perang Khandaq tersebut. Dia Syahid di pangkuan Rasulullah. 

Sangat indah sekali kematian Sa’ad. Syahid di pangkuan orang yang paling dicintainya, Nabi Muhammad SAW, dan mendapat kesaksian langsung dari beliau.  Bahkan kematiannya membuat Arsy Allah berguncang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallaam pun bersabda,

اهتز عرش الرحمن لموت سعد بن معاذ

“Arsy Allah Ar-Rahman bergetar karena wafatnya Sa'ad bin Muadz.” (HR. Bukhari dan Muslim)

###

Siapakah Sa'ad bin Mu'adz?
Dia adalah seorang kepala suku Aus, suku terbesar di Madinah. Beliau masuk Islam melalui dakwah yang dilakukan Mushab bin Umair ra, sahabat yang diutus Nabi ke Madinah, satu tahun menjelang hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah. Setelah masuk Islam, Sa’ad mengumpulkan kaumnya. Di hadapan mereka, dia mengucapkan kata-kata yang sangat bersejarah, “Wahai Bani Abdul Asyhal, apa pendapat kalian tentang diriku?”

Kaumnya menjawab, “Engkau adalah pemimpin kami, kami ikuti pendapatmu dan kamu orang yang paling kami percaya.”

Kemudian Sa’ad melanjutkan, “Wahai kaumku, baik laki-laki maupun wanita, mulai hari ini adalah haram bagi kalian berbicara denganku, sebelum kalian bersyahadat, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” 

Selanjutnya, pada hari itu seluruh kaumnya (Bani Abdul Ayshal dari suku Aus) itu masuk Islam sebelum datangnya petang hari.

Kemudian dengan kekuatan militernya yang disegani, beliaulah yang menjadi benteng utama dakwah Nabi SAW di Madinah di setiap kesempatan. Di sinilah peran penting Sa’ad. Dia dan kaumnya adalah pengawal dan pendukung utama setiap kebijakan Nabi Muhammad SAW dalam menegakkan syariat Allah. Sa’ad dan kaumnya dari Suku Aus selalu tampil terdepan membela Nabi. 

###

Betapa indahnya kematian Sa'ad bin Mu'adz, sang pembela agama Allah. Allah muliakan beliau dikarenakan seluruh kekuatan yang  dimilikinya dikerahkan untuk tegaknya kalimat-kalimat Allah di muka bumi. 

Dalam riwayat disebutkan bahwa ketika jenazahnya berada di hadapan manusia, orang-orang munafikin mengatakan: “Sungguh ringan sekali jenazahnya”. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallaam berkata: “Sesungguhnya para malaikat telah membawa jenazahnya. 70.000 malaikat turun ke bumi untuk menyaksikan dan bertakziah atas wafatnya Sa'ad".

Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Aku adalah salah seorang yang menggali makam untuk Sa'ad, dan setiap kami menggali satu lapisan tanah, tercium oleh kami wangi kesturi”.

Itulah Sa'ad bin Muadz, tokoh sahabat Anshar yang memeluk Islam saat beliau berusia 31 tahun dan wafat saat berusia 37 tahun. Dalam 6 tahun masa keislamannya, wafatnya telah membuat Arsy Allah Ta’ala bergetar. 

Untuk siapapun anda yang hari ini punya kekuatan, tidakkah kalian menginginkan sebuah kematian yang indah? Kematian yang disambut oleh 70.000 malaikat.., kematian yang karenanya langit pun bergetar menghantarkan arwahnya.. Tidakkah kalian menginginkan dengan kekuatan yang kalian miliki itu Allah memuliakan kalian? Gunakanlah kekuatan yang kalian miliki itu untuk menolong agama Allah. Untuk tegaknya kalimat-kalimat Allah di muka bumi. 

Sebaliknya, kehinaanlah bagi siapa saja yang menggunakan kekuatannya justru untuk menegakkan kedzaliman, dan untuk menghadang dakwah bagi tegaknya Syariat Allah secara kaffah di muka bumi. 

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ تَـنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَا مَكُمْ

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."
(QS. Muhammad: Ayat 7)

Share:

TUKANG BATU YANG TANGAN NYA DI CIUM RASULULLAH ﷺ‎. ♦️

 Mengenal Gurun Arab atau Arabian Desert yang Ada di Arab Saudi

Saat mendekati kota madinah, di salah satu sudut jalan, Rasulullah ﷺ‎ berjumpa dengan seorang tukang batu.
Ketika itu Rasulullah ﷺ‎ melihat tangan buruh tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari. 

Rasulullah pun bertanya,
"Kenapa tanganmu kasar sekali..?

Si tukang batu menjawab,
"Ya Rasulullah, pekerja'an saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual kepasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi Nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar. 

Rasulullah ﷺ‎ adalah manusia paling Mulia, tetapi begitu melihat tangan si tukang batu yang kasar karena mencari Nafkah yang halal, Rasulullah ﷺ‎ pun menggenggam tangan itu, dan mencium seraya bersabda,

"Inilah tangan yang tidak akan pernah di sentuh oleh api Neraka selama-lamanya."

Rasulullah ﷺ‎ tidak pernah mencium tangan para pemimpin Quraisy, tangan para pemimpin kabilah, raja atau siapa pun.

Sejarah mencatat hanya Putrinya fatimah Az Zahra dan tukang batu, itulah tangannya yang pernah di cium Rasulullah ﷺ‎. 

Padahal tangan tukang batu yang di cium oleh Rasulullah ﷺ‎ justru tangan yang telapaknya melepuh dan kasar/kapalan.
Karena membelah batu dan kerja keras. 

Suatu ketika seorang laki-laki melintas di hadapan Rasulullah ﷺ‎.
Orang itu dikenal sebagai pekerja yang ta'at dan giat juga tangkas. 

Parasahabat kemudian berkata,,
"Wahai Rasulullah, andai bekerja seperti di lakukan orang itu dapat di golongkan jihat di jalan Allah (fi sabilillah), maka alangkah baik nya."

Mendengar itu Rasulullah ﷺ‎ pun menjawab,
"Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka itu fi sabilillah."
(HR. Thabrani). 

Maka dalam setiap langkahmu bekerja atau berusaha, niatkan untuk mencari rejeki yang halal, untuk memberi nafkah kepada keluarga.
Maka sa'at itu engkau sedang fi sabilillah (di jalan Allah).

Masya Allah 

" Allahuma sholli ala Muhammad 
Wa ala Ali Muhammad "

Semoga bermanfa'at🙏🙏🙏

Sumber: FB tsaida tsaida

Share:

Kisah ini masyhur dari al-Imam al-Hasan al-Bashrī

 Arab Saudi Mau Bikin Kota Sepanjang 170 Km di Gurun Tanpa ...

 Diriwayatkan bahwa ada tiga orang datang mengadu kepadanya dengan keluhan yang berbeda:

1. Orang pertama datang mengeluh tentang kemiskinan.
→ Al-Hasan berkata: "Mintalah ampun (istighfarlah) kepada Allah."

2. Orang kedua datang mengeluh karena tidak punya anak (mandul).
→ Al-Hasan berkata: "Mintalah ampun (istighfarlah) kepada Allah."

3. Orang ketiga datang mengadu karena kekeringan tanah (butuh hujan).
→ Al-Hasan berkata: "Mintalah ampun (istighfarlah) kepada Allah."

Murid-muridnya pun bertanya: "Kenapa engkau selalu memberikan jawaban yang sama, yaitu istighfar, padahal masalah mereka berbeda-beda?"

Maka Hasan al-Bashri menjawab dengan membaca firman Allah dalam Surah Nūḥ ayat 10–12:

> فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا
وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا
Artinya:
"Maka aku (Nuh) berkata: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan lebat untukmu, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan untukmu kebun-kebun dan sungai-sungai." (QS. Nūḥ: 10–12).

🔹 Dari kisah ini kita belajar bahwa istighfar bukan hanya menghapus dosa, tapi juga menjadi sebab turunnya rezeki, keturunan, dan hujan.

Share:

Radio Islam Indonesia

LISTEN QURAN

Listen to Quran

Popular Posts

Blog Archive

Recent Posts

Pages