Ada beberapa hadits yang dijadikan dalil bolehnya berjoget (menari). Bahkan orang-orang shufi menjadikannya hujjah bolehnya bergoyang-goyang, menari atau berjoget dalam berdzikir atau bershalawat. Haditsnya berikut ini,
Berkata Aisyah radhiallahu’anha,
جَاءَ حَبَشٌ يَزْفِنُونَ فِي يَوْمِ عِيدٍ فِي الْمَسْجِدِ فَدَعَانِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعْتُ رَأْسِي عَلَى مَنْكِبِهِ فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ إِلَى لَعِبِهِمْ حَتَّى كُنْتُ أَنَا الَّتِي أَنْصَرِفُ عَنْ النَّظَرِ إِلَيْهِمْ
Orang-orang Habasyah sedang menari di Masjid pada hari raya. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memanggilku, aku pun meletakkan kepala di atas pundaknya untuk melihat permainan mereka sampai aku sendiri yang berhenti melihat mereka. (HR. Muslim).
Berkata Anas Bin Malik radhiyallahu anhu,
كَانَتِ الْحَبَشَةُ يَزْفِنُونَ بَيْنَ يَدَىْ رَسُولِ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- وَيَرْقُصُونَ وَيَقُولُونَ مُحَمَّدٌ عَبْدٌ صَالِحٌ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- « مَا يَقُولُونَ ». قَالُوا يَقُولُونَ مُحَمَّدٌ عَبْدٌ صَالِحٌ
“Bahwa orang-orang Habasyah (Ethiopia) menari di depan Rasulullah dan mereka mengatakan: “Muhammad hamba yang saleh”. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya (kepada para sahabat): “Apa yang mereka katakan?”. Mereka menjawab bahwa orang-orang Habasyah tengah mengatakan Muhammad hamba yang saleh.” (HR Ahmad. Isnad Shahih).
Padahal yang dimaksud menari disini adalah bermain-main memperagakan dan mempermainkan pedang atau tombak latihan berperang.
Berkata Aisyah radhiyallahu anhu,
كَانَ الْحَبَشُ يَلْعَبُونَ بِحِرَابِهِمْ فَسَتَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَنْظُرُ فَمَا زِلْتُ أَنْظُرُ حَتَّى كُنْتُ أَنَا أَنْصَرِفُ فَاقْدُرُوا قَدْرَ الْجَارِيَةِ الْحَدِيثَةِ السِّنِّ تَسْمَعُ اللَّهْوَ
“Dahulu orang-orang Habasyah sedang bermain-main dengan tombak mereka, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menutupiku, sementara aku menonton mereka. Begitulah seterusnya hingga aku sendirilah yang bosan dan beranjak sendiri. Karena itu, tentukanlah sendiri kadar (lama waktu) seorang gadis kecil yang sedang mendengarkan permainan.” [Muttafaq ‘alaih].
Berkata Abu Hurairah radhiyallahu anhu,
بَيْنَمَا الْحَبَشَةُ يَلْعَبُونَ بِحِرَابِهِمْ إِذْ دَخَلَ عُمَرُ فَأَهْوَى إِلَى الْحَصَا فَحَصَبَهُمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «دَعْهُمْ يَا عُمَرُ
“Ketika orang-orang Habsyah sedang bermain-main dengan tombak mereka, tiba-tiba umar masuk kemudian melempari mereka dengan kerikil. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,”Biarkanlah mereka wahai Umar.” [Muttafaq ‘alaih].
Berkata An Nawawi rahimahullah,
وَحَمَلَهُ الْعُلَمَاءُ عَلَى التَّوَثُّبِ بِسِلَاحِهِمْ وَلَعِبِهِمْ بِحِرَابِهِمْ عَلَى قَرِيبٍ مِنْ هَيْئَةِ الرَّاقِصِ لِأَنَّ مُعْظَمَ الرِّوَايَاتِ إِنَّمَا فِيهَا لَعِبهِمْ بِحِرَابِهِمْ فَيُتَأَوَّلُ هَذِهِ اللَّفْظَةُ عَلَى مُوَافَقَةِ سَائِرِ الرِّوَايَاتِ" . انتهى من "شرح مسلم" للنووي (6/186) .
Para ulama memahaminya melompat-lompat dengan pedang dan bermain-main dengan senjata mereka ini yang terdekat dengan (makna) ar-Raqish (pemain pedang) kerana banyak riwayat-riwayat yang di dalamnya (menunjukkan) mereka bermain dengan senjata mereka maka ditakwilkan kepada lafaz ini (melompat dengan pedang) supaya ia sesuai dengan seluruh riwayat. (Syarah Muslim).
Berkata Ibnu Hajar rahimahullah,
وَاسْتَدَلَّ قَوْمٌ مِنَ الصُّوفِيَّةِ بِحَدِيثِ الْبَابِ عَلَى جَوَازِ الرَّقْصِ وَسَمَاعِ آلَاتِ الْمَلَاهِي وَطَعَنَ فِيهِ الْجُمْهُورُ بِاخْتِلَافِ الْمَقْصِدَيْنِ فَإِنَّ لَعِبَ الْحَبَشَةِ بِحِرَابِهِمْ كَانَ لِلتَّمْرِينِ عَلَى الْحَرْبِ فَلَا يُحْتَجُّ بِهِ لِلرَّقْصِ فِي اللَّهْو وَالله أعلم
Sekelompok diantara shufi berhasil dengan hadis bab bolehnya tarian (joget) dan mendengar alat-alat musik. Sedangkan Jumhur Ulama' menghujat padanya, karena perbedaan tujuan. Maka sesungguhnya permainan Habsyah dengan alat-alat perang mereka adalah dengan tujuan latihan berperang. Maka tidak boleh dijadikan hujjah untuk menari dalam rangka main-main (bersenang-senang) wallahua'lam." (Fathul Bari).
Oleh karena itu berjoget bukan dalam rangka memperagakan latihan berperang hukumnya makruh dan bisa menjadi haram kalau meniru orang barat atau wanita kafir.
Disebutkan dalam Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah,
فَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ وَالْقَفَّال مِنَ الشَّافِعِيَّةِ إِلَى كَرَاهَةِ الرَّقْصِ مُعَلِّلِينَ ذَلِكَ بِأَنَّ فِعْلَهُ دَنَاءَةٌ وَسَفَهٌ، وَأَنَّهُ مِنْ مُسْقِطَاتِ الْمُرُوءَةِ، وَأَنَّهُ مِنَ اللَّهْوِ.
“Madzhab Hanafiyah, Malikiyah, Hanabilah, dan Al-Qafal dari Syafi’iyyah (berpendapat) makruh (hukumnya) menari (berjoget) itu melalaikan. Karena sesungguhnya itu perbuatan hina dan bodoh. Dan bahwasanya itu diantara sesuatu yang menyebabkan jatuh kehormatan dan bermain-main.
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,
الرقص مكروه في الأصل ، ولكن إذا كان على الطريقة الغربية ، أو كان تقليداً للكافرات : صار حراماً ؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم " من تشبه بقوم فهو منهم "
Joget itu asalnya adalah makruh. Akan tetapi apabila dengan cara orang barat atau meniru wanita kafir, maka menjadi haram. Berdasarkan sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam, “Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian darinya.” (Liqo Babul Maftuh, kaset no. 1085).
AFM
Copas dari berbagai sumber
Home »
» BERJOGET RIA








Tidak ada komentar:
Posting Komentar