Ayat Yang Tegaskan Larangan Jual Agama Demi Kepentingan Dunia

 6 Pantai ini airnya bisa 'menyala' di malam hari

Maknanya, janganlah mengambil dunia, dengan sengaja menyembunyikan penjelasan, informasi, dan tidak menyebarkan ilmu yang bermanfaat kepada masyarakat, serta membuat samar kebenaran.

Agama seringkali menjadi kedok atau kemasan alat justifikasi (pembenaran) sebagian kelompok demi kepentingan bisnis atau politiknya. Minimnya ilmu dan besarnya hawa nafsu dapat mendorong manusia untuk menggadaikan agamanya demi kepentingan sesaat.

Dalam al-Qur'an, setidaknya ada beberapa peringatan mengenai menjual ayat Allah, di antaranya surat al-Baqarah ayat 41.

وَلاَ تَشْتَرُواْ بِآيَاتِي ثَمَناً قَلِيلاً وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ

Wa lā tasytarụ bi`āyātī ṡamanang qalīlaw wa iyyāya fattaqụn.

Arti: “Janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa” (QS. al-Baqarah: 41).

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, makna ثَمَناً قَلِيلاً (harga yang rendah) adalah dunia seisinya.

Berikut penjelasan lengkapnya:

معناه لا تعتاضوا عن البيان والإيضاح ونشر العلم النافع في الناس بالكتمان واللبس لتستمروا على رياستكم في الدنيا القليلة الحقيرة الزائلة عن قريب

Maknanya, janganlah kalian mengambil dunia, dengan sengaja menyembunyikan penjelasan, informasi, dan tidak menyebarkan ilmu yang bermanfaat kepada masyarakat, serta membuat samar kebenaran. Agar kalian bisa mempertahankan posisi kepemimpinan kalian di dunia yang murah, rendah, dan sebentar lagi akan binasa. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/244).

Sasaran utama ketika ayat ini diturunkan adalah sebagai peringatan untuk para pembesar yahudi, seperti Huyai bin Akhtab, Ka’ab al-Asyraf, atau pemuka yahudi lainnya.

Sebelum Islam datang, para pemuka Yahudi mendapatkan upeti dan uang sogokan dari masyarakatnya.

Setiap kali mereka mengeluarkan fatwa atau membacakan taurat, atau melakukan ritual Yahudi, mereka diberi bayaran oleh masyarakat.

Banyak masyarakat sekitar Madinah, baik yahudi maupun orang musyrik, yang menjadi korban mereka.

Pada saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin tiba di Madinah, mereka khawatir, jika nanti sampai banyak masyarakat Madinah, terutama yang Yahudi masuk Islam, maka mereka tidak lagi mendapatkan uang upeti, sogok atau minimal pemasukan mereka akan berkurang.

Karena alasan ini, mereka berusaha menghalangi masyarakat Madinah, terutama masyarakat yahudi, agar tidak mengikuti dakwah Nabi Muhammad dan para sahabat. Padahal mereka tahu dengan yakin, bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir seperti yang disebutkan dalam taurat.

Bahkan dalam tafsir ringkas Kementerian Agama RI, ada tuntunan pada ayat di atas yang mempertegas mengajak manusia memeluk Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad: "Dan berimanlah kamu kepada apa, yakni Al-Qur'an, yang telah aku turunkan kepada nabi Muhammad yang membenarkan apa, yakni Taurat, Zabur, dan lain-lain, yang ada pada kamu, dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama, yakni yang paling gigih dan paling keras mengingkari dan kafir kepadanya.

Janganlah kamu jual, campakkan, atau tukar ayat-ayat ku dengan kemegahan duniawi dan dengan harga yang pada hakikatnya murah walaupun tampak mahal, dan bertakwalah hanya kepada-ku, sebab dengan itu kamu akan dapat menjalankan perintah-ku dan meninggalkan larangan-ku, sehingga kamu tidak terjerumus dalam kesesatan"

Pada ayat ini, Allah memberikan larangan kepada Bani Israil untuk tidak mencampur adukkan antara kebenaran dan kebatilan.

"Janganlah kamu, wahai bani Israil, campur adukkan kebenaran dengan kebatilan dengan memasukkan apa yang bukan firman Allah ke dalam kitab Taurat, dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran firman-firman Allah seperti berita akan datangnya nabi Muhammad, sedangkan kamu mengetahuinya".

Orang-orang Yahudi menyembunyikan berita tentang kedatangan nabi Muhammad yang termaktub di dalam Taurat dengan maksud untuk menghalangi manusia beriman kepadanya.

Meskipun khitab (isi pembicaraan) ayat tersebut ditujukan kepada Bani Israil, namun keumuman ayat ini bisa juga terjadi pada konteks sekarang. Misalnya, bagaimana pemuka agama melestarikan tradisi atau ajaran yang tidak sama sekali bersumber dari imam empat madzhab apalagi para sahabat dan Nabi Saw, sedangkan mereka mengetahui bahwa hal tersebut menyelisihi kebenaran.

Hal lain juga bisa terjadi pada seseorang yang mementingkan aspek politik dan bisnis dengan menyamarkan antara kebenaran dan kebatilan. Bahkan seringkali beberapa ayat al-Qur'an ditakwilkan (dipalingkan maknanya) sesuai selera. Padahal jika dia sadar, keindahan dunia yang memesona dan kenikmatannya yang menyenangkan pasti sirna di kala Allah Swt menghendakinya.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah diantara kalian serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur, dan diakhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (QS. al-Hadid: 20).

 Wa allahu a'lam

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Radio Islam Indonesia

LISTEN QURAN

Listen to Quran

Popular Posts

Blog Archive

Recent Posts

Pages