Imam Bukhari mendapat tekanan keras di akhir hayatnya dari penguasa kota-kota muslim. Lebih tepatnya kota Naisabur, Bukhara, dan Samarkhan.
Di antara sebabnya:
- Imam Bukhari menolak mengajarkan anak-anak mereka di istana. Beliau selalu berkata: "Ilmu itu didatangi. Bukan dibawakan ke pintu-pintu"
- Rasa iri sebagian orang terhadap Imam Bukhari karena ketenaran dan sejarah yang ditorehnya.
- Dan sebab-sebab lainnya.
𝗜𝗺𝗮𝗺 𝗕𝘂𝗸𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗗𝗶𝘂𝘀𝗶𝗿 𝗣𝗲𝗻𝗴𝘂𝗮𝘀𝗮 𝗡𝗮𝗶𝘀𝗮𝗯𝘂𝗿
Ketika Imam Bukhari berumur 62 tahun, penguasa Naisabur memerintahkannya untuk keluar dari kota dan berkata bahwa keberadaannya tidak lagi diharapkan.
Beliau pun meninggalkan Naisabur hingga sampai di tanah lahirnya, Bukhara. Orang berbondong-bondong menyambutnya di gerbang kota dengan harta dan gula. Masyarakat biasa, penuntut ilmu, dan sebagian ahli hadist berkumpul di sana meninggalkan majelis ahli hadis lain sehingga hal itu membuat panas hati sebagian orang.
𝗜𝗺𝗮𝗺 𝗕𝘂𝗸𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗗𝗶𝘂𝘀𝗶𝗿 𝗣𝗲𝗻𝗴𝘂𝗮𝘀𝗮 𝗕𝘂𝗸𝗵𝗮𝗿𝗮
Tetapi tidak berselang lama, ketenaran itu membuat murka penguasa Bukhara, di samping datangnya surat dari penguasa Naisabur bahwa Imam Bukhari harus segera diusir dari Bukhara sebagaimana beliau diusir sebelumnya dari Naisabur.
Utusan penguasa Bukhara sampai di depan rumah dan meminta Imam Bukhari untuk segera meninggalkan Kota. Perintahnya berbunyi "Sekarang juga" beliau harus keluar!.
Imam Bukhari bahkan tidak diberi waktu untuk sekedar mengumpulkan dan merapikan buku-bukunya. Beliau terpaksa keluar kemudian berkemah di perbatasan Kota selama tiga hari untuk merapikan buku-bukunya sedangkan beliau tidak tau entah mau pergi kemana.
𝗜𝗺𝗮𝗺 𝗕𝘂𝗸𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗛𝗶𝗷𝗿𝗮𝗵 𝗸𝗲 𝗔𝗿𝗮𝗵 𝗞𝗼𝘁𝗮 𝗦𝗮𝗺𝗮𝗿𝗸𝗵𝗮𝗻
Imam Bukhari akhirnya memutuskan berangkat ke arah Kota Samarkhan. Tidak sampai masuk ke Kota, beliau berbelok ke arah salah satu desa disekitarnya, desa Kartank. Bertamu kepada sebagian kerabatnya di sana. Kali ini beliau ditemani oleh Ibrahim bin Ma'qil.
𝗜𝗺𝗮𝗺 𝗕𝘂𝗸𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗗𝗶𝘂𝘀𝗶𝗿 𝗢𝗹𝗲𝗵 𝗣𝗲𝗻𝗴𝘂𝗮𝘀𝗮 𝗦𝗮𝗺𝗮𝗿𝗸𝗵𝗮𝗻
Tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Pengawal penguasa Samarkhan pun sampai di depan pintu rumah tempat Imam Bukhari bertamu.
Kali ini perintah dari penguasa Samakhan adalah: Imam Bukhari harus keluar dari Samarkhan dan desa-desa sekitarnya. Padahal saat itu adalah malam Idul Fitri. Sayangnya, beliau disuruh untuk keluar "Sekarang" bukan setelah Idul Fitri.
Imam Bukhari takut membuat masalah untuk kerabat yang sudah memuliakannya. Ibrahim bin Ma'qil merapikan buku beliau di salah satu tunggangan beliau dan menyiapkan tunggangan lainnya untuk Imam Bukhari.
Ibrahim bin Ma'qil kembali ke rumah, barulah Imam Bukhari keluar dalam keadaan terpaksa. Keduanya berjalan menuju tunggangan.
Setelah 20 langkah, Imam Bukhari merasakan letih yang amat sangat. Beliau meminta Ibnu Ma'qil menunggunya sebentar untuk beristirahat.
𝗜𝗺𝗮𝗺 𝗕𝘂𝗸𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗪𝗮𝗳𝗮𝘁
Imam Bukhari duduk di tepi jalan kemudian tertidur. Beberapa menit setelahnya, ketika Ibnu Ma'qil ingin menbangunkan beliau, ternyata ruh beliau sudah diangkat ke sisi Allah. Rahimahullah.
Imam Bukhari wafat di tepi jalan pada malam Idul Fitri, 1 Syawal 256H. Dalam keadaan terusir dari satu kota ke kota lain di usia tuanya, 62 tahun.
Hari ini, tidak ada yang mengenali nama penguasa Naisabur, Bukhara, dan Samarkhan ketika itu. Tetapi semua kenal dengan Imam Bukhari.
Semoga Allah merahmati Imam Bukhari dan mengangkat derajatnya di surga yang tinggi bersama para nabi, syuhada, dan orang-orang salih.
📔 Siyar A'lam An-Nubala 12/468
𝗞𝗜𝗦𝗔𝗛 𝗣𝗘𝗥𝗝𝗔𝗟𝗔𝗡𝗔𝗡 𝗛𝗜𝗗𝗨𝗣 𝗜𝗠𝗔𝗠 𝗕𝗨𝗞𝗛𝗔𝗥𝗜 𝗛𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔 𝗪𝗔𝗙𝗔𝗧
Aqidah Ahlus Sunnah
Aqidah adalah amalan hati berupa Iman (keyakinan teguh) dan pembenaran (tashdiq) terhadap Al-Qur'an dan As-Sunnah, yang didasarkan pada pemahaman para salafus shalih. Ini berarti keimanan yang kokoh dan tanpa keraguan dalam hati, sesuai dengan ajaran Al-Qur'an dan As-Sunnah yang dipahami oleh generasi awal Islam yaitu para sahabat radhiyallahu, tabi'in dan tabi'ut tabi'in.
Seandainya bukan karena Allah yang telah memberitahukannya kepadaku, tentulah aku tidak mengetahuinya. Dan sesungguhnya aku hanya memberitahukan kepada kalian bahwa:
أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا
"Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS. Al-Kahfi: 110).
Allah Tabaraka wata’ala berfirman,
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Dan “Sungguh telah Kami wahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu, seandainya kamu berbuat syirik niscaya akan lenyap seluruh amalmu dan kamu pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. az-Zumar: 65).
Allah Tabaraka wata’ala berfirman,
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. “ (QS. Al Hasyr :7).
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
“Barang siapa yang menaati Rasul, sesungguhnya ia telah menaati Allah.” (QS. An Nisa’: 80).
🌸 Mengikuti pemahaman sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam alam beragama.
وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَٰنٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِىd تَحْتَهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar".(QS. At-Taubah: 100).
Para sahabat radhiyallahu ‘anhum merupakan generasi terbaik pada umat ini. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهمْ يَمِينَهُ وَيَمِيْنُهُ شَهَادَتَهُ
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (para Sahabat), kemudian yang datang sesudah mereka (Tabi’in), kemudian yang datang sesudah mereka (pengikut Tabi’in), lalu akan datang suatu kaum yang mana persaksian salah seorang di antara mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” (Muttafaqun ‘Alaih).
Allah Tabaraka wata’ala berfirman
وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ
ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم
"Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu". (QS. Luqman: 15).
🌸 Jalan golongan orang yang selamat
Yaitu: Orang-orang yang berpegang teguh kepada Sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan Sunnah Khulafaur Rasyidin. Mereka menggigit sunnah tersebut dengan gigi geraham mereka.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati para sahabat radhiyallahu ‘anhum,
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang mendapatkan petunjuk (dalam ilmu dan amal). Pegang teguhlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Daud no. 4607, At Tirmidzi no. 2676).
Oleh karena itu, mereka adalah Firqatun Najiyyah (Golongan yang Selamat). Mereka selamat dari api Neraka pada Hari Kiamat, dan mereka selamat dari kebidahan pada kehidupan dunia ini.
Mereka itulah golongan yang ditolong, karena sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam tentang mereka:
“لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين حتى يأتيهم أمر الله وهم ظاهرين”
“Akan sentiasa ada segolongan dari umatku yang terus tegak di atas kebenaran sampai datang Hari Kiamat, dalam keadaan mereka dimenangkan.” (Dikeluarkan dalam kitab Ash Shahihain dari hadis Al-Mughirah bin Syu’bah.” Al-Mu’taqad As-Shahih : 6).
𝘽𝙖𝙧𝙖𝙠𝙖𝙡𝙡𝙖𝙝𝙪 𝙛𝙞𝙞𝙠𝙪𝙢.
Bekas Darah haid yang Menempel di Celana
Pertanyaan:
Ada seorang wanita, dia sudah membersihkan bekas haid yang ada di celananya, tapi gak bersih2. masih ada aja bekas darahnya, bahkan sampai kering. Nah.. bolehkh celana ini dipake ibadah? Apakah bekas darah itu najis?
Dari: Ana – Jateng
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Darah haid hukumnya najis, karena itu wajib dicuci.
Jika sudah dicuci, bahkan dikucek, namun masih ada bekasnya, tidak masalah digunakan untuk shalat atau ibadah lainnya yang mempersyaratkan harus suci dari najis.
Kesimpulan ini berdasarkan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang seorang sahabat wanita yang bernama Khoulah bintu Yasar datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya,
“Wahai Rasulullah, saya hanya memiliki satu baju, dan ketika haid, saya mengenakan baju ini.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan,
فإذا طهرت فاغسلي موضع الدم ثم صلي فيه
“Jika kamu telah suci, cucilah bekas yang terkena darah, kemudian gunakan baju itu untuk shalat.”
Khoulah bertanya lagi: “Ya Rasulullah, bagaimana jika bekasnya tidak hilang?”
Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
يكفيك الماء ولا يضرك أثره
“Cukup kamu cuci dengan air, dan tidak usah pedulikan bekasnya.”
(📚HR. Abu Daud dan Baihaqi; disahihkan Albani).
Hukum semacam ini sejalan dengan kaidah umum dalam fikih,
المشقة تجلب التيسير
“Kesulitan membawa kemudahan”
Dan ini bagian dari kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Allah memberikan banyak keringanan dalam kesulitan yang tidak mungkin dihindari oleh para hamba-Nya. Allah berfirman,
وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
Dia sama sekali tidak menjadikan adanya kesempitan untuk kamu dalam agama
(📖QS. Al-Hajj: 78)
Allahu a’lam
Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baitss
(Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)
Kenapa mendakwahi sesama orang Islam jauh lebih sulit?
Beberapa wakru yang lalu diberi kabar salah satu Ustadz pengajar di kelas bacaan Al-Quran yang kami adakan disalah satu Lembaga Pemasyarakatan, tentang adanya jamaah yang baru masuk Islam, atau muallaf, kata beliau mudah saja menjelaskan kepada dia tentang konsekuensi syahadat, juga tentang Tauhid dan Syirik, demikian juga dengan Sunnah dan Bid'ah. Kata beliau jika materi yang sama disampaikan kepada sesama orang Islam mungkin akan ada penolakan, dan yang jelas jauh lebih sulit serta perlu proses panjang dalam menjelaskannya hingga paham.
Jadi teringat apa yang disampaikan oleh Ustadz Armen Halim Naro Lc Rahimahullah dalam salah satu kejian beliau, beliau mengatakan, "MengIslamkan orang Islam jauh lebih sulit daripada mengIslamkan orang kafir, tau penyebabnya?, karena orang Islam kebanyakan dijaman ini tidak mengetahui bagaimana ajaran Islam yang benar seperti yang diajarkan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya, yang diketahui orang Islam kebanyakan adalah Islam yang telah sampai kepada mereka dijaman ini yang sudah bercampur dengan paham-paham lain diluar Islam. "
Sangat benar perkataan beliau, coba saja kita nasehati seseorang agar meninggalkan tahlil kematian, pasti kita dilempar sandal, dikatai wahabi atau yang terjadi kemudian lebih buruk lagi, karena orang yang mengamalkan tahlil kematian menyakini amalannya diatas kebenaran, padahal hal demikian tidak pernah diamalkan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, para sahabatnya bahkan para imam mahzab sekalipun.
Atau ketika nampak ada wanita dikepala pakai hijab tapi kebawah pakai pakaian seksi, atau pakai celana jeans yang ketat sehingga membentuk lekukan tubuhnya, lalu kita nasehati, "mbak kalau berhijab yang benar yaa", langsung saja pasti kita dituduh macam-macam, entah sok usil atau sok suci atau berdalih yang penting hatinya dihjiabi. Itu mungkin terjadi karena dilingkungan sejak kecil yang namanya hijab adalah yang penting nutup kepala, padahal hijab sudah jelas syariatnya sejak jaman Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dan sudah dirumuskan banyak ulama dan bukan seperti itu amalannya.
Atau ketika seseorang memakai jimat dan semacamnya kemudian kita tegur, "mas jangan pakai jimat itu masuk amalan syirik mas, bahaya", pasti kita dituduh macam-macam, dan membela amalannya itu sebagai hanya wasilah (perantara), padahal dalam beberapa hadist Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan yang demikian masuk amalan kesyirikan.
Dan banyak mungkin terjadi hal demikian, banyak terjadi penolakan ketika kita ingin meluruskan kebengkokan dalam agama yang dilakukan seseorang, karena sudah lama mereka memahami yang benar adalah demikian. Waalahua'lam.
Semoga Allah Ta'ala selalu melindungi kemurnian agama ini, sehingga kita tau mana Islam yang sebenarnya seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya.
Suatu saat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkisah,
خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هذه سبل و عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu,’ kemudian beliau membaca,
{وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}
‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya’”
([Al An’am: 153]
(📚Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad dan yang lainnya)
Oleh Siswo Kusyudhanto
Sumber referensi "Jalan Kebenaran hanya satu", karya Ustadz Sa'id Abu Ukasyah di muslim. Or. Id
AQIDAH AHLUS SUNNAH TENTANG ALAM KUBUR
Para ulama Salaf, Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Ahlul Hadits wal Atsar, mereka semua meyakini masalah-masalah yang berhubungan dengan alam kubur dan keadaan para penghuninya sampai kepada masalah kebangkitan seluruh manusia dari alam kubur, sesuai dengan yang terungkap di dalam ayat-ayat al-Qur-an, hadits-hadits shahih, dan perkataan-perkataan para Salaf, bahwasanya:
1. Iman Kepada Siksa dan Nikmat Kubur Merupakan Keimanan Kepada Perkara yang Ghaib
Maka mereka mengimani segala hal yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hal tersebut adalah shahih, maka semuanya wajib dibenarkan, baik dapat disaksikan dengan panca indera kita atau tidak, difahami dengan akal kita atau tidak. Di antara keimanan kepada perkara yang ghaib adalah beriman kepada hari Akhir dan beriman kepada siksa kubur, nikmatnya, fitnahnya dan keadaan-keadaannya.[1]
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ
“Dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur-an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” [Al-Baqarah/2: 4]
2. Tiga Alam dan Masing-masing Hukum untuknya
Mereka semua mengimani alam yang tiga, yaitu dunia, kubur, dan akhirat. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan setiap alam tersebut berbagai hukum yang dikhususkan kepada masing-masing alam tersebut, Dia menyusun manusia dari badan dan jiwa, Dia-lah Allah Yang menjadikan hukum dunia kepada badan sedangkan ruh mengikutinya, dan menjadikan hukum alam kubur kepada ruh sedangkan jasad mengikutinya. Dan apabila telah datang hari dikumpulkannya jasad-jasad, dan manusia berdiri (bangkit) dari kubur-kubur mereka, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan hukum, nikmat dan siksa di dalamnya menimpa ruh juga badan secara bersamaan.[2].
***
MUKJIZAT BAHTERA NABI NUH
Bahtera Nabi Nuh adalah mukjizat Ilahi dalam segala ukuran. Panjangnya sekitar 300 hasta dan lebarnya sekitar 20 hasta, dengan luas 6000 hasta, setara kurang lebih 3000 meter persegi. Bahtera itu terdiri dari tiga lantai, dengan tinggi 50 hasta, sebanding dengan bangunan 8 lantai. Lantai terakhirnya ditutup dengan kayu.
•••• {Mukjizat Pertama}
Nuh عليه السلام membuat bahtera dengan wahyu dari Jibril عليه السلام. Setiap papan kayu yang ia pasang dan setiap paku yang ia tancapkan, semuanya dengan bimbingan wahyu, karena ia tidak mengetahui apa-apa tentang pembuatan kapal. Para malaikat membantunya dalam proses itu.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ﴾
“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan wahyu Kami; dan janganlah engkau bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” (QS. Hud: 37)
Bahtera itu terbuat dari kayu yang disatukan dengan paku.
Allah berfirman: ﴿وَحَمَلْنَاهُ عَلَىٰ ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ﴾
“Dan Kami mengangkutnya (Nuh) di atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku.” (QS. Al-Qamar: 13)
(dusur = paku).
Ia membuat kapal itu di padang pasir diatas gunung/bukit, bukan di tepi laut atau sungai seperti biasanya. Kaumnya pun mengejeknya, karena mereka tidak paham apa yang dilakukan Nuh.
Allah berfirman:
﴿وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَأٌ مِّن قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ قَالَ إِن تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ \* فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَن يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُّقِيمٌ﴾
“Dan Nuh membuat bahtera. Setiap kali pemimpin kaumnya lewat kepadanya, mereka mengejeknya. Nuh berkata: ‘Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) akan mengejekmu sebagaimana kamu mengejek (kami). Maka kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya, dan yang akan didatangi azab yang kekal.’” (QS. Hud: 38–39)
•••• {Mukjizat Kedua}
Allah memerintahkannya menjalankan bahtera ketika tanūr (tungku) memancarkan air, sebagai tanda berangkatnya perjalanan. Saat itu ia diperintah membawa orang-orang beriman dan dari setiap jenis makhluk berpasangan. Adapun yang kafir akan binasa.
Allah berfirman:
“Hingga apabila perintah Kami datang dan tanūr telah memancarkan air, Kami berfirman: ‘Muatkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap jenis (makhluk hidup) dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ditetapkan atasnya hukuman, dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.’ Dan tidak beriman bersama Nuh itu kecuali sedikit.” (QS. Hud: 40)
Makna tanūr yang kuat adalah tungku api, sehingga tanda keluarnya air adalah ketika tungku di rumah memancarkan air.
•••• {Mukjizat Ketiga}
Bahtera itu mampu bertahan dari banjir besar dengan ombak setinggi gunung.
Allah berfirman: ﴿وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ﴾
“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung.” (QS. Hud: 42)
Ia berlayar di tengah air yang sangat dahsyat, deras dari bumi dan hujan lebat dari langit, hingga akhirnya berlabuh di Gunung Judi setelah 40 hari (ada yang mengatakan 3 bulan atau lebih).
Allah berfirman:
“Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah deras. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan.” (QS. Al-Qamar: 11–12)
Air sebesar itu mustahil bisa ditahan kapal biasa, tapi Allah menjaga bahtera Nuh.
Allah berfirman: ﴿بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا﴾
dan: ﴿تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا جَزَاءً لِمَن كَانَ كُفِرَ﴾
“Bahtera itu berlayar dengan pengawasan Kami, sebagai balasan bagi orang yang telah didustakan.” (QS. Al-Qamar: 14)
•••• {Mukjizat Keempat}
Bahtera itu melaju deras tanpa layar, dayung, kemudi, atau mesin. Semuanya digerakkan langsung oleh Allah, sebagaimana ayat diatas.
•••• {Mukjizat Kelima}
Bahtera itu membawa semua orang beriman serta sepasang dari setiap makhluk hidup.
Allah berfirman: ﴿وَاحْمِلْ فِيهَا مِن كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ﴾
“Dan muatkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari setiap jenis makhluk.” (QS. Hud: 40)
Meski berbeda lingkungan, sifat, makanan, bahkan ada yang saling bermusuhan, mereka semua hidup berdampingan dengan damai hingga bahtera berlabuh di Gunung Judi (sekarang di perbatasan Turki, Irak, dan Suriah).
Allah berfirman: ﴿وَنَجَّيْنَاهُ وَمَن مَّعَهُ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ﴾
“Dan Kami selamatkan dia (Nuh) dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera yang penuh muatan.” (QS. Asy-Syu‘ara: 119).
Wa Allahu A,'lam












